Vrydag, 21 Junie 2013

Kepemimpinan Lurah Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administrasi Jakarta Selatan”.

BAB I
PENDAHULUAN


A.Latar Belakang Masalah
Kepemimpinan pada era globalisasi yang sarat dengan tantangan, persaingan dan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), harus memiliki keunggulan yang kompetitif dalam memimpin suatu organisasi. Pemimpin tersebut tidak akan dapat menjalankan organisasinya secara efektif dan efisien, apabila dalam penyelenggaraan tugas pemerintahan tidak mempunyai suatu keahlian. Penyelenggaraan tugas pemerintahan dapat mencapai hasil yang baik, apabila adanya peningkatan kualitas profesionalisme pemimpin dan pegawainya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang memegang teguh etika birokrasi, dalam memberikan pelayanan yang sesuai dengan tingkat kepuasan dan keinginan masyarakat.
Sesuai dengan amanat UU.No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No.34 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Propinsi Daerah Khusus Ibukota Negara Republik Indonesia Jakarta, maka sebagai konsekuensinya Jakarta menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, pendidikan, pariwisata, kebudayaan dan lain–lain. Jakarta sebagai Ibukota Negara, merupakan tumpuan harapan bagi rakyat Indonesia untuk memperbaiki kehidupan dan meningkatkan potensi diri dalam berbagai aspek kehidupan.
Hal tersebut di atas merupakan tantangan bagi Pemerintah Propinsi DKI Jakarta dalam penyelenggaraan pemerintahan, sehingga pelayanan publik semakin
kompleks. Dari masalah yang berskala kecil hingga berskala besar ada di Kota Jakarta, misalnya penataan lingkungan kumuh, penanganan banjir, kemacetan lalu lintas, penataan pedagang kaki lima, penanganan kebersihan dan penghijauan, penanganan penyandang masalah sosial, penyediaan lapangan pekerjaan, pembangunan dan atau perbaikan sarana/prasarana perkotaan, dan masih banyak lagi masalah–masalah yang lain. Untuk menangani hal tersebut diperlukan kebijakan yang komprehensif dan pelaksanaan kebijakan yang sungguh-sungguh oleh semua jajaran pimpinan unit organisasi di Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
Pelayanan publik setiap unit organisasi Pemerintah di Daerah Khusus Ibukota Jakarta mempunyai tugas pokok dan fungsi masing-masing untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pelaksanaan tugas dan fungsi tersebut, menjadi kewajiban pemimpin unit organisasi. Pemimpin unit organisasi mempunyai peranan yang sangat strategis guna mengarahkan, membimbing dan mendorong kinerja bawahan dalam pelaksanaan tugas yang telah digariskan oleh organisasi, sehingga pelayanan publik dapat dilaksanakan secara efektif, efisien dan akuntabel. Hal tersebut dapat diwujudkan, apabila pada setiap pemimpin unit organisasi menggunakan kepemimpinan yang efektif dan efisien.
Kepemimpinan menyangkut proses mempengaruhi sosial dengan pengaruh yang disengaja digunakan oleh seseorang terhadap orang lain untuk mengorganisir kegiatan–kegiatan dan hubungan–hubungan dalam organisasi. Dalam kepemimpinan yang paling penting adalah menginterpretasikan peristiwa-peristiwa, memetakan jalannya organisasi, membangun kerja sama antar anggota organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sekecil apapun organisasi, peranan pemimpin sangat dominan dalam menciptakan, mengembangkan, memelihara dan meningkatkan kerja sama baik vertikal, horizontal maupun diagonal. Hal tersebut mempengaruhi semua bawahan atau pengikut agar dapat memberikan pengabdian untuk mencapai tujuan organisasi.
Era globalisasi dan era reformasi, perubahan tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dengan cepat mengikuti perkembangan dunia internasional. Pemimpin dan kepemimpinan organisasi pemerintah pada umumnya dan pemerintah Kelurahan pada khususnya menjadi perhatian utama publik baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Seiring dengan tuntutan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman tersebut, diperlukan pemimpin yang berkualitas sehingga pelayanan publik dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara cepat, efektif dan akuntabel. Namun demikian sampai saat ini sebagian opini masyarakat menyatakan bahwa manajemen Pemerintah Kelurahan dinilai belum dapat melayani kebutuhan masyarakat secara optimal.
Penyatuan persepsi dan langkah terhadap pelaksanaan tugas pokok dan fungsi organisasi, seorang pemimpin perlu memperhatikan apa yang disebut budaya organisasi. Budaya organisasi merupakan suatu hal yang dapat di rekayasa menuju perubahan budaya yang lebih baik. Pemimpin dituntut memberikan tauladan kepada pegawai dan masyarakat di lingkungan organisasi tersebut tentang nilai–nilai yang di terapkan. Peranan pemimpin dalam menciptakan budaya organisasi harus direncanakan serta diarahkan untuk semua anggota organisasi.
Nilai–nilai budaya di lingkungan kantor Pemerintah Kelurahan masih banyak yang perlu diperbaiki, dikembangkan bahkan dihilangkan. Hal ini memerlukan proses dan memakan waktu yang relatif lama. Perilaku para anggota organisasi merupakan pencerminan nilai–nilai budaya yang dianut oleh suatu organisasi. Membangun asumsi dasar, keyakinan dan norma–norma seperti sopan santun, cara berbicara, cara memberikan pelayanan kepada masyarakat, membangun kebersamaan, penataan ruang kerja dan lain–lain merupakan tuntutan sekaligus tantangan bagi seorang pemimpin untuk mewujudkannya. Namun di sisi lain opini sebagian besar masyarakat menyatakan bahwa masih banyak pegawai Pemerintah Kelurahan terkesan bukan sebagai pelayan masyarakat tetapi sebagai orang yang minta dilayani. Hal ini ditandai apabila masyarakat memerlukan pelayanan, harus melalui prosedur yang berbeli–belit dan kadang-kadang melanggar norma–norma dan peraturan yang telah ditetapkan.
Sejalan dengan meningkatnya tuntutan akan hak–hak yang harus diterima oleh masyarakat, maka kinerja pegawai Pemerintah Kelurahan semakin banyak mendapatkan sorotan baik dari lembaga formal yang menjadi instansi atasnya, lembaga sosial kemasyarakatan maupun masyarakat pada umumnya. Hal tersebut merupakan konsekuensi dari pemerintah, karena Pemerintah Kelurahan merupakan organisasi Pemerintah terdepan yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Kegiatan apapun yang terjadi di wilayah Kelurahan akan dipandang masyarakat sebagai tanggung jawab Pemerintah Kelurahan. Kinerja pegawai Pemerintah Kelurahan mudah diperhatikan dan dinilai oleh masyarakat. Masyarakat menilai bahwa kinerja pegawai Pemerintah Kelurahan belum dapat merespon kebutuhan masyarakat secara optimal. Segenap jajaran pegawai Pemerintah Kelurahan memerlukan perhatian ekstra dari berbagai pihak sebagai bahan pertimbangan para pembuat kebijakan, sehingga apa yang di harapkan oleh masyarakat dapat diwujudkan.
Pelayanan publik dengan segala aspeknya, pegawai Pemerintah Kelurahan belum dapat merespon kebutuhan masyarakat secara optimal disebabkan berbagai faktor antara lain keterbatasan sumber daya manusia baik kuantitas maupun kualitas, sarana dan prasarana perkantoran yang belum memadai, keterbatasan dukungan anggaran dan wewenang dan lain sebagainya.
Kinerja para pegawai pemerintah kelurahan Kalibata, dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai abdi masyarakat, yang membantu dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat belum dilaksanakan secara maksimal. Hal ini disebabkan karena ketidaksiapan dan juga kemampuan para pegawai kelurahan belum dimiliki secara obyektif. Hal ini terlihat pada kedisiplinan para pegawai kelurahan dalam menjalankan tugasnya juga belum diterapkan dengan baik oleh para pegawai. Kedisiplinan Lurah yang lemah dalam mengawasi atau mengontrol pelaksanaan tugas yang dikerjakan oleh para pegawainya menyebabkan kinerja dari para pegawai kelurahan tidak dapat ditingkatkan. Hal tersebut dilihat dari kekosongan para pegawai pada jam-jam kerja atau para pegawai yang pulang lebih awal sebelum jam kerja berakhir. Sehingga masyarakat yang membutuhkan bantuan pelayanan publik tidak dapat mengurus keperluan yang mereka butuhkan, karena tidak adanya pegawai yang bertugas dalam bidangnya untuk membantu masyarakat tersebut.
Kepemimpinan Lurah Kalibata , perlu bersikap lebih proaktif dan tegas terhadap para pegawai, beliau dapat lebih mengenal dan memahami kondisi dari para pegawai untuk lebih meningkatkan kinerjanya untuk dapat mencapai tujuan organisasi yang diinginkan. Peningkatan disiplin para pegawai pemerintah Kelurahan Kalibata masih harus terus ditingkatkan agar dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dapat dilakukan secara maksimal dan dapat mengerjakan suatu tugasnya dengan waktu yang relatif cepat, serta menghasilkan kualitas layanan yang memuaskan. Tugas kepemimpinan yang dijalankan oleh Lurah Kalibata masih terus dapat ditingkatkan agar dalam memimpin organisasi kelurahan dapat dilaksanakan berdasarkan keahlian dan juga kemampuan yang telah dimilikinya.
Faktor yang sangat mendukung kepemimpinan Lurah dalam meningkatkan kinerja pegawai pemerintah kelurahan dapat dilihat dari cara lurah tersebut memperhatikan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh para pegawainya, untuk dapat lebih meningkatkan kinerjanya agar dapat mencapai tujuan organisasi yang diinginkan. Lurah yang dapat memahami dan mengerti akan kebutuhan yang dibutuhkan oleh para pegawainya, membuat para pegawai dapat meningkatkan kinerjanya secara maksimal.
Berkaitan dengan masalah–masalah tersebut di atas penulis tertarik untuk menyusun skripsi dengan judul “Kepemimpinan Lurah Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administrasi Jakarta Selatan”.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut, maka penulis memberikan batasan masalah yang akan diteliti dalam penyusunan skripsi ini, yaitu :
1. Bagaimana kepemimpinan lurah dalam meningkatkan kinerja pegawai Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administrasi Jakarta Selatan ?
2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kepemimpinan lurah dalam meningkatkan kinerja pegawai Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administrasi Jakarta Selatan ?

C. Pembatasan Masalah
Dikarenakan oleh adanya keterbatasan dana, waktu penelitian, serta untuk membatasi meluasnya permasalahan yang akan diteliti, maka penelitian akan difokuskan pada Peran Kepemimpinan Lurah Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai Pemerintah Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administrasi Jakarta Selatan”

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, identifikasi masalah serta pembatasan masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian ini adalah “Apakah terdapat Peran Kepemimpinan Lurah Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administrasi Jakarta Selatan”
E.Maksud dan Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maksud penelitian ini adalah untuk menjelaskan Kepemimpinan Lurah Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administrasi Jakarta Selatan .
Sedangkan tujuan dari penulisan skripsi ini adalah :
1. Untuk mengetahui kepemimpinan lurah dalam meningkatkan kinerja pegawai kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administrasi Jakarta Selatan
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan lurah dalam meningkatkan kinerja pegawai kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administrasi Jakarta Selatan

F.Kegunaan Penelitian
1. Bagi penulis penelitian ini berguna untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan khususnya tentang Ilmu Pemerintahan, kepemimpinan dan kinerja pegawai pemerintahan.
2. Untuk mengetahui gambaran yang jelas tentang kepemimpinan lurah dalam meningkatkan kinerja pegawai pemerintah kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administrasi Jakarta Selatan
3. Bagi Organisasi
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada pemimpin organisasi tentang kepemimpinan dan kinerja pegawai Pemerintah Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administrasi Jakarta Selatan ,serta mengetahui teori kepemimpinan dan teori kinerja pegawai.

BAB II
KERANGKA TEORITIS

A. Tinjauan Pustaka
1. Hakikat Pemerintah dan Pemerintahan
1.1. Pengertian Pemerintah
Menurut Ermaya Suradinata (2002:13) pemerintah adalah organisasi yang mempunyai kekuatan besar dalam suatu Negaramenyangkut urusan masyarakt,teritorial,dan urusan kekuasaan dalam rangka mencapai tujuan negara.Sedangkan pemerintahan adalah proses kegiatan yang di selenggarakan oleh pemerintah.Pendapat lain di sampaikan oleh Syaire (dalam Ermaya Suradinata (2002 :13) bahwa pemerintahan adalah lembaga negara yang terorganisir yang memperhatikan dan menjalankan kekuasaannya,tetapi tidak menyebutkan nama-nama kekuasaan atau kekuatan pada instansi tertentu.Sedangkan menurut Sumendar (dalam Syafei 2003:6), Pemerintah sebagai badan yang penting dalam rangka pemerintahannya.Pemerintah mesti memperhatikan ketentraman dan ketertiban umum,tuntutan dan harapan,serta pendapat rakyat,kebutuhan dan kepentingan masyarakat,pengaruh lingkungan,pengaturan komunikasi,peran serta seluruh lapisan masyarakat,serta keberadaan legitimasi. Menurut Fener (dalam Inu Kencana Syafei, 2003:6), Pemerintah harus mempunyai kegiatan yanhg berlangsung terus menerus di wilayah negara,pejabat yang memerintah dan cara,metode serta sistem dari pemerintah terhadap masyarakat.
Pada sisi lain,menurut Arief Budiman (1997:91), Pemerintah merupakan lembaga eksekutif negara. Pemerintahan meliputi aparat birokrasi teknis (birokrasi dalam pengertian sempit) maupun para politisi dan negarawan yang menjadi pucuk pemimpin lembaga-lembaga negara.Pemerintah merupakan aspek personel negara;dia adalah faktor manusia dari negara.
1.2. Pengertian Pemerintahan
Menurut Ermaya Suradinata (2002:14-15)Pemerintahan adalah proses kegiatan yang di selenggarakan oleh pemerintah. Pandangan tentang pemerintahan tersebut sangat luas,karena semua aktivits kegiatan negara di gerakan dalam rangk memberikan kesejahtraan dan rasa aman pada masyarakat. Proses tersebut melibatkan lembaga militer,kepolisian,fungsi legislatif,keuangan penegakan hukum yang berkeadilan dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat,menumbuh kembangkan peran serta masyarakat untukberpartisipasi dalam berbagai bidang pembangunan bagi kepentingan bangsa.
Sedangkan Riyas Raysid (2002:21), berpendapat bahwa pemerintahan selalu di lihat berbagai perpaduan antara aturan main (konstitusi,hukum,etika),lembaga lembaga yng berwenag mengelola serangkaian kekuasaan (eksekutif, legislatif, yudikatif),serta sejumlah birokrat dan pejabat politik sebagi pelaku dari dan penanggung jawab atas pelaksana kewenangan-kewenangan tersebut.
Pakar lain yaitu Hadari Nawawi (200:5),mengatakan bahwa negara atau pemerintahan sebagai organisasi non profit berfungsi memberikan pelayanan pada setiap dan semua individu sebagai masyarakat(publik service)dalam memenuhi kebutuhannya masing-masing.Pemerintahan yang bersifat non profit berfungsi sebagai pelaksan pembangunan untuk mewujudkan dan meningkatkan kesejahtraan masyarakat/ rakyatnya.Dalam menjalankan fungsi yang bersifat non profit itu,pemerintah membentuk berbagai lembaga yang paling kecil,agar berjalannya fungsi pelayanan masyarakat(publik service)dan pembangunan, yang diantaranya diorientasikan menurut aspek-aspek kehidupan seperti pendidikan, sosial, kesehatan, hukun, agama, dan lain-lainnya.
Dari beberapa teori, pendapat, pendapat dan pengertian mengenai pemerintah dan pemerintahan yang telah di kemukakan di atas,dan disimpulkan bahwa hakikat pemerintahan adalah individu atau sebuah tim dari berbagai individu yang mengambil keputusan yang memberi dampak bagi warga sebuah masyarakat untuk menjamin kelangsungan hidupnya.Sedangkan hakikat pemerintahan adalah pelayanan kepada masyarakat dengan menerapkan suatu kewenangan yang berdaulat secara berkelanjutan,berupa penataan, pengaturan,penertiban,pengamanan,dan perlindungan terhadap sekelompok manusia untuk mencapai tujuan tertentu berdasar peraturan.

1.3 Pengertian Kepemimpinan
Charles B.Handy dalam Soebagio (2004;42) mengkaji kepemimpinan pada 3 (tiga) pola pemikiran yang diklasifikasikan sebagai (a) teori karakteristik personalitas; (2) Teori kontigensi dan (c) teori gaya kepemimpinan.
Teori karakteristik personalitas lebih menekankan pada pribadi-pribadi manusianya, dibanding dengan situasi dan kondisi lingkungan yang mempengaruhinya. Teori kontigensi menitik beratkan pada 3 (tiga) faktor situasional yaitu (a) hubungan atasan/pimpinan dan bawahan, (b) struktur tugas dan (c) kekuatan posisional.
Teori kepemimpinan merupakan kombinasi pengembangan pemikiran sosiologis dan pendekatan psikologis. Pangkal tolak pemikiran ini adalah “pegawai bawahan akan bersedia kerja keras (efektif), jika pimpinan menerapkan yang akomodatif”. Teori ini bertumpu pada “pandangan bahwa terhadap perilaku atasannya” yang berdimensi pada (a) struktur inisiatif yang merupakan tingkat keterlibatan pimpinan menentukan peran dirinya dan peran bawahannya yang bersifat komunikasi atau satu arah dan (b) pertimbangan yang merupakan tingkat perilaku pimpinan terhadap bawahan yang dicerminkan pada rasa saling mempercayai, saling menghormati, memberi dukungan pada ide-ide bawahan dan komunikasi yang bersifat dua arah.
Michael Armstrong (1999;90) memberikan definisi bahwa kepemimpinan adalah sesuatu mengenai mendorong dan membangkitkan individu dan kelompok untuk berusaha sebaik mungkin untuk mencapai hasil yang diinginkan. Semua manajer berdasarkan definisinya adalah pemimpin dalam arti bahwa mereka hanya melakukan apa yang harus mereka lakukan dengan dukungan kelompok mereka, yang harus diberi inspirasi dan dipersuasi untuk mengikuti mereka. Kepemimpinan diperlukan karena seseorang harus menunjukkan jalan dan bahwa orang yang sama harus memastikan bahwa setiap orang yang berkepentingan tiba disana. Efektivitasnya organisasi bergantung pada kualitas kepemimpinan.
Soebagio (2004;41) mengemukakan esensi kepemimpinan adalah :
1. Kemampuan mempengaruhi sikap orang lain, apakah dia pegawai bawahan, rekan sekerja atau atasan.
2. Adanya pengikut yang dapat dipengaruhi, baik oleh ajakan, anjuran, bujukan, sugesti, pemerintah, saran atau bentuk lainnya.
3. Adanya tujuan yang hendak dicapai.

R.M. Stogdill mengemukakan bahwa rata-rata orang yang memegang kedudukan sebagai pemimpin mengungguli rata-rata anggota kelompoknya dalam hal-hal kecerdasan, pendidikan, daya tahan dalam melaksanakan tanggung jawab, aktivitas dan partisipasi sosial dan status ekonomi. Kualitas, ciri-ciri dan keterampilan yang dihadapkan dari seorang pemimpin sebagian besar ditentukan oleh tuntutan situasi dimana dia harus berfungsi selaku pimpinan. Peran pemimpin dan kepemimpinan sangat penting dalam setiap organisasi atau kelompok apapun,sehingga seorang pemimpin memiliki tugas, fungsi dan peran antara lain :
1. Mengisi kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam pola dan struktur organisasi yang dipimpinya
2. Mengatasi dan melakukan penyesuaian-penyesuaian akibat perubahan yang terus menerus mengenai situasi, kondisi dan lingkungan serta semua aspek.
3. Mengadakan penyempurnaan-penyempurnaan sebagai akibat dinamika dan perkembangan organisasi intern.
4. Melakukan pengisian yang disebabkan perolahan (keluar masuk) sumber daya manusia dalam organisasi.

Keith Devis (1999:373) mengemukakan bahwa terdapat beberapa sifat yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin yang dapat membawa keberhasilan organisasi :
1. Kecerdasan
Hasil penelitian umumnya membuktikan bahwa pemimpin mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibanding yang dipimpin. Namun demikian, pemimpin tidak perlu banyak melampaui kecerdasan yang dipimpin.
2. Kedewasaan dan keluasan hubungan sosial
Pimpinan cendrung menjadi matang dan mempunyai etos yang stabil, serta mempunyai emosi yang stabil, serta mempunyai perhatian yang luas terhadap aktivitas-aktivitas sosial. Dia mempunyai keinginan dihargai dan menghargai.
3. Motivasi diri dan dorongan berprestasi
Para pemimpin secara relatif mempunyai dorongan motivasi yang kuat untuk berprestasi. Mereka bekerja berusaha mendapatkan penghargaan yang interinsitik dari pada ektrinik.
4. Sikap-sikap hubungan kemanusiaan
Pemimpin-pemimpin yang berhasil mau mengakui harga diri dan kehormatan para pengikutnya dan mampu berpihak kepadanya. Pada Universitas Ohio pemimpin mempunyai perhatian dan kalau menggunakan istilah Michigan, pemimpin itu berorientasi pada karyawan bukannya pada produksi.

1.4 Fungsi Kepemimpinan
Menurut Wirawan (2000 ; 16) kepemimpinan adalah proses pemimpin menciptakan visi, strategi dan mempengaruhi sikap dan prilaku pengikut untuk merealisir visi.
Berdasarkan definisi yang dijelaskan para ahli diatas, maka fungsi kepemimpinan adalah mencakup :
1. Penciptaan Visi ; pemimpin mempunyai visi yang jelas kemana para pengikutnya diarahkan.
2. Penegasan nilai – nilai ; pemimpin menetapkan pedoman perilaku dalam bentuk norma – norma.
3. Pemberdayaan pengikut ; pemimpin memberdayakan pengikut dengan cara a). meningkatkan pengetahuan ketrampilan sikap dan perilakunya b). pendelegasian wewenang atau kekuasaan c). memberikan dukungan dan memotivasi pengikut
4. Penciptaan perubahan
5. Memotivasi pengikut
6. Mewakili sistem sosialnya

Proses pengaruh mempengaruhi antar pribadi atau antar organisasi, selalu terdapat pada unsur kepemimpinan dalam suatu situasi tertentu, melalui proses komunikasi yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi. Tanpa adanya proses pengaruh mempengaruhi yang dilakukan oleh pemimpin dalam suatu organisasi, maka organisasi dan kepemimpinan orang tersebut tidak akan berjalan dengan baik. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Karjadi , dalam Ensiklopedi Umum tahun 1973 yang mengartikan Kepemimpinan bahwa :
”Hubungan yang erat antara seorang dan sekelompok manusia, karena adanya kepentingan bersama: hubungan itu ditandai tingkah laku yang tertuju dan terbimbing dari pada manusia yang seorang itu: manusia atau orang ini biasanya disebut yang memimpin atau pemimpin sedangkan sekelompok manusia yang mengikutinya disebut yang “dipimpin”
(Karjadi,1981:2).

Kepemimpinan muncul dan berkembang sebagai hasil dari interaksi otomatis diantara pemimpin dan individu yang dipimpinnya. Kepemimpinan ini dapat berfungsi atas dasar kekuasaan pemimpin, untuk mengajak, mempengaruhi dan menggerakkan orang lain guna melakukan serangkaian kegiatan demi pencapaian tujuan organisasi. Berdasarkan pengertian yang dikemukakan Prajudi Atmosudirjo bahwa
Kepemimpinan dapat dipandang sebagai pangkal penyebab dari kegiatan-kegiatan, proses, atau kesediaan untuk merubah pandangan atau sikap (mental/phisik) dari kelompok orang-orang, Baik dalam hubungan organisasi formil maupun informil (Atmosudirjo,1981:2).

Kepemimpinan dapat berjalan dengan baik apabila dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pemimpin bisa mempengaruhi bawahannya, dan juga harus dapat memberikan motivasi kepada bawahannya untuk dapat menghasilkan kinerja pegawai yang optimal. Motivasi dan juga arahan dari pemimpin, merupakan faktor pendorong bagi tercapainya tujuan organisasi yang dilaksanakan oleh pegawainya.
Kepemimpinan dapat pula dipandang sebagai suatu bentuk persuasi, suatu seni pembinaan sekelompok orang-orang tertentu, biasanya melalui “human relation” dan motivasi yang tepat, sehingga mereka tanpa adanya rasa takut mu bekerja sama dan membanting tulang untuk memahami dan mencapai segala apa yang menjadi tujuan-tujuan organisasi: pandangan ini terutama disukai oleh mereka yang tidak suka kepada pengiringan (drivership) atau sikap otoriter (Karjadi,1981:3)

Seorang pemimpin tidak hanya dituntut untuk mengetahui bagaimana pekerjaan harus dilaksanakan, dengan apa seorang pemimpin membentuk sikap dan diikuti oleh bawahan, tetapi yang tidak kalah penting adalah bagaimana seorang pemimpin memahami kepribadian dan merespon aspirasi bawahan sehingga mereka merasa terayomi dan mempunyai rasa memiliki organisasi. Maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah seni atau proses mempengaruhi orang lain sehingga dengan sukarela pegawai bawahan dapat melaksanakan tugas sesuai dengan tugas yang telah diberikan oleh pimpinan. Hal ini sependapat dengan Karjadi, bahwa
Kepemimpinan adalah memprodusir dan memancarkan pengaruh terhadap kelompok orang-orang tertentu, sehingga mereka bersedia (willing) untuk berubah pikiran, pandangan sikap, kepercayaan dan sebagainya; didalam suatu organisasi formil, maka kepemimpinan itu merupakan suatu proses yang terus menerus yang membuat untuk semua anggota organisasi bergiat dan berdaya upaya untuk memahami dan mencapai tujuan-tujuan yang ditentukan oleh pemimpin (Karjadi,1981:3).

Seorang pemimpin dalam melaksanakan kepemimpinan ditentukan oleh sikap dan gaya kepemimpinan. Hal ini tampak dalam aktivitas sehari-hari dalam hal bagaimana seorang pemimpin dan wewenang, memberi perintah, cara berkomunikasi, memberikan motivasi kepada bawahan, memberikan bimbingan, menegakkan disiplin dan lain sebagainya. Seorang pemimpin dapat dikatakan berhasil apabila bersikap dan berperilaku sedemikian rupa sehingga situasi dan kondisi yang ada menjadi pendukung kearah pencapaian tujuan organisasinya. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Sondang P. Siagian, bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang dinilai mampu untuk mengambil keputusan sebagai kriteria utamanya. Hal ini dikarenakan seorang pemimpin pada dasarnya merupakan pembuat keputusan (decision maker) (Siagian,1999:46-47).
Proses pengambilan keputusan dapat dilakukan berdasarkan wawasan, aktivitas dan pemilihan alternatif jawaban atas masalah. Hal ini sejalan dengan pendapat Simon dalam bukunya administrative Behaviour yang dikutip dan diterjemahkan oleh Kartini kartono, mengemukakan 3 (tiga) proses dalam pengambilan keputusan yaitu :
a. Inteligence activity, yaitu proses penelitian situasi dan kondisi dengan wawasan yang intelligent;
b. Desaign activity, yaitu proses menemukan masalah, mengembangkan dan menganalisa kemungkinan pemecahan masalah serta tindakan lebih lanjut;
c. Choise activity, yaitu memilih salah satu tindakan dari sekian banyak alternatif atau kemungkinan pemecahan masalah.
(Kartono,2003:128)

Sebagai seorang pemimpin harus dengan cepat mengambil keputusan yang telah ditetapkan sesuai dengan keputusan bersama, karena peranan seorang pemimpin sangat beperan dalam pengambilan keputusan. Serta sebagai pemimpin dalam suatu organisasi harus memiliki sifat-sifat sebagai pemimpin yang baik dalam organisasinya.
Ada tiga indikator yang relavan dengan pengertian tersebut di atas adalah :
1) Perilaku Kepemimpinan
Pendukung dari indikator ini meliputi :
a. Orientasi tugas
b. Orientasi karyawan
2) Gaya kepemimpinan
Pendukung dari indikator ini meliputi :
a. wewenang pimpinan dalam pekerjaan
b. kebijakan pimpinan yang dapat mempengaruhi kedudukan bawahan
3) Sifat pemimpin
Pendukung dari indikator ini meliputi :
a. ketauladanan pemimpin
b. bimbingan pemimpin terhadap bawahan.
(Karjadi,1981:42)


1.5. Pengertian Pemerintahan Kelurahan
Menurut Dadang Solihin (2002 : 74), menyatakan bahwa ”kelurahan adalah wilayah kerja lurah sebagai perangkat daerah kabupaten dan daerah kota dibawah kecamatan. Satuan wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk yang mempunyai organisasi pemerintah terendah langsung di bawah camat dan tidak berhak menyelenggarakan rumah tangga sendiri. Ciri utama kelurahan kepala kelurahan (lurah) sebagai pegawai negeri dan tidak dipilih oleh rakyat.”
Dalam Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 Tentang pemerintahan daerah, Pasal 127 ayat (1) Kelurahan dibentuk di wilayah kecamatan dengan perda berpedoman pada peraturan pemerintah, ayat (2) kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh lurah yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan dari Bupati / Walikota, ayat (3) Selain tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) lurah mempunyai tugas:
1. Pelaksanaan kegiatan pemerintah kelurahan;
2. Pemberdayaan Masyarakat;
3. Pelayanan Masyarakat;
4. Penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum; dan
5. Pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum.

Pada KEPMENDAGRI Nomor 159 Tahun 2004 juga dikemukakan bahwa keuangan kelurahan bersumber dari APBD Kabupaten / Kota yang dialokasikan sebagaimana perangkat daerah lainnya. Alokasi anggaran Kelurahan memperhatikan variable-variable:
1. Besaran kewenangan yang dilimpahkan;
2. Jumlah penduduk
3. Kepadatan penduduk
4. Luas wilayah
5. kondisi geografis / karakteristik wilayah
6. Jenis volume pelayanan.

Dalam konteks Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, hubungan pembinaan camat kepada lurah sudah merupakan kewajiban yang melekat pada dirinya, mengingat lurah adalah bawahan camat.
Aparatur pemerintahan yang terdepan sebagai ujung tombak pemerintahan negara adalah di desa/kelurahan. Pemimpin pada tingkat desa disebut Kepala Desa, dan pemimpin pada tingkat kelurahan disebut Lurah. Kepala Desa dan Lurah memimpin proses kegiatan pemerintahan di wilayahnya.
Pimpinan pemerintahan tingkat kelurahan adalah Kepala Kelurahan atau Lurah. Berdasarkan pasal 24 Undang-undang nomor 5 Tahun 1979, Kepala Kelurahan adalah penyelenggara dan penanggung jawab utama di bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan dalam rangka penyelenggaraan urusan pemerintah daerah dan urusan pemerintah umum termasuk pembinaan ketentraman dan ketertiban sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
Kepala Kelurahan adalah Pegawai Negeri yang diangkat oleh Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II/Walikota atas nama Gubernur Kepala Daerah Tingkat I dengan memperhitungkan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang berlaku dan syarat-syarat yang dimaksud dalam pasal 4 kecuali huruf g Undang-undang nomor 5 tahun 1979, yaitu terdaftar sebagai penduduk dan bertempat tinggal tetap di Desa yang bersangkutan sekurang-kurangnya selama 2 (dua) tahun terakhir dengan tidak terputus-putus, kecuali bagi putera Desa yang berada di luar Desa yang bersangkutan.
Persyaratan menjadi Kepala Desa dan Kepala Kelurahan berdasarkan pasal 4 sekurang-kurangnya berijazah Sekolah Lanjutan Pertama atau yang berpengetahuan/pengalaman yang sederajat dengan itu. Namun dalam wilayah-wilayah tertentu di Indonesia seorang Kepala Desa atau seorang Kepala Kelurahan seharusnya berpendidikan minimal Sekolah Lanjutan Tingkat Atas.
Kelurahan sebagai unit pemerintahan terendah dibawah camat. Pemerintahan Kelurahan adalah organisasi pemerintah yang juga tunduk terhadap kaidah-kaidah organisasi pada umumnya. Yang dimaksud dengan organisasi pemerintahan kelurahan adalah struktur tata pembagian kerja dan struktur tata hubungan kerja antara Kepala Kelurahan, Sekretaris Kelurahan, Kepala-kepala seksi pada sekretariat kelurahan, saling bekerja sama melalui suatu sistem untuk mencapai tujuan bersama.
Dalam pasal 7 menyatakan bahwa dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, lurah melakukan koordinasi dengan camat dan instansi vertical yang berada di wilayah kerja.
Pada pasal 4 ayat (1) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2005 tentang Kelurahan menyatakan: Lurah sebagaimana dimaksud Pasal 3 ayat (2) mempunyai tugas pokok menyelenggarakkan urusan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan dan pada ayat (2) selain tugas sebagaimana dimaksud ayat (1), Lurah melaksanakan urusan pemerintahan yang dilimpahkan oleh Bupati/Walikota. Lebih lanjut dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 159 Tahun 2004 tentang pedoman Organisasi Kelurahan Pasal 3: Lurah mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan oleh Camat sesuai karakteristik wilayah dan kebutuhan daerah serta melaksanakan tugas pemerintahan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Selanjutnya pada Pasal 5 ayat (1) menyatakan: Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada Pasal 4, Lurah mempunyai tugas: (a) pelaksana kegiatan pemerintahan kelurahan, (b) pemberdayaan masyarakat, (c) pelayanan masyarakat, (d) penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum, (e) pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum, dan (f) pembinaan lembaga kemasyarakatan. Bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 18 ayat (6) Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2003 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah, perlu menetapkan Pedoman Organisasi Kelurahan dengan keputusan Menteri Dalam Negeri.
Dalam konteks Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, hubungan pembinaan camat kepada lurah sudah merupakan kewajiban yang melekat pada dirinya, mengingat lurah adalah bawahan camat.
Hal tersebut nampak dari bunyi pasal 67 ayat (5) UU Nomor 32 Tahun 2004 bahwa ” Lurah bertanggung jawab kepada camat”. Dalam pasal 2 ayat (2) keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 159 tahun 2004 disebutkan bahwa ”Kelurahan dipimpin oleh lurah yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada camat’” dengan demikian hubungan antara camat dengan lurah bersifat subordinatif, adapun susunan organisasi kelurahan menurut KEPMENDAGRI No 159 Tahun 2004 terdiri dari Lurah, Sekretaris kelurahan dan seksi sebanyak-banyaknya 4 (empat) seksi serta jabatan fungsional.


Gambar 1
Bagan Susunan Organisasi Kelurahan Kalibata

LURAH
WAKIL LURAH








Sumber : Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibu kota Jakarta Nomor 147 Tahun 2009Tanggal 25 Agustus 2009


Jadi Lurah adalah Aparatur pemerintahan yang terdepan sebagai ujung tombak pemerintahan negara. Lurah mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan oleh Camat sesuai karakteristik wilayah dan kebutuhan daerah serta melaksanakan tugas pemerintahan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dalam penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum.
Ciri-ciri Lurah adalah: 1). Aparat pemerintah, 2). Melaksanakan kewenangan, 3). Aturan-aturan Kelurahan.
Dari teori-teori tersebut diatas dapat ditarik sintesa terhadap teori Kepemimpinan Lurah Adalah : Aparat yang mempunyai kemampuan memimpin dan kualitas memimpin dalam melaksanakan kewenangannya serta melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait berdasarkan aturan-aturan yang baku pemerintah dan bertanggung Jawab dalam menjalankan pekerjaannya
Indikator-indikator dari kepemimpinan Lurah adalah :
1. Kemampuan memimpin;
2. Kualitas memimpin;
3. Melaksanakan kewenangan;
4. Melaksanakan koordinasi;
5. Bertanggung jawab.


2.Pengertian Kinerja Pegawai

Istilah kinerja berasal dari kata job performance atau actual performane (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang). Prestasi yang didapat oleh pegawai dapat ditingkatkan, bila adanya motivasi dan juga kompensasi yang didapat oleh pegawai tersebut, karena telah melaksanakan tugasnya dengan baik dan dapat meningkatkan kinerja secara optimal. Hal ini sejalan dengan pendapat Mangkunegara yang mengemukakan bahwa, kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya (Mangkunegara,2000:67).
Kinerja merupakan hasil perbandingan antara pekerjaan yang dicapai dengan standar pekerjaan yang ditetapkan sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Kualitas yang dihasilkan oleh pegawai dalam melaksanakan tugas, dilihat dari tingkat pencapaian kerja yang dihasilkan pegawai tersebut. Menurut Keputusan LAN (Lembaga Administrasi Negara) No.589/1999 tentang penyusunan LAKIP (Pelaporan Akuntabilitas kinerja Instansi Pemerintah) kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijaksanaan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi, dan visi organisasi (Himpunan peraturan Kepegawaian,2002:267).
Kinerja dengan demikian dapat diartikan sebagai cara kerja para pegawai dalam melaksanakan suatu kewajiban atau tugas yang telah digariskan oleh pimpinan untuk dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Suatu pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai akan menghasilkan suatu hasil yang optimal apabila didukung oleh tingkat pemahaman akan tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya, dan juga dilakukan secara profesional sesuai dengan keahliannya.
Kinerja seseorang dapat dilihat dari 2 (dua) sisi, yaitu dari sisi kinerja perorangan dan sisi kinerja lembaga. Kedua-duanya saling berhubungan, hal ini ditegaskan oleh pendapat Prawirosentono, mengemukakan bahwa terdapat hubungan antara kinerja perorangan (individual performance) dengan kinerja lembaga (institutional performance). Dengan kata lain bila kinerja seorang karyawan baik maka kemungkinan besar kinerja perusahaan juga baik (Prawirisentono,1999:3).
Pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa, terdapat hubungan antara kinerja aparat kelurahan dengan kinerja pemerintah kelurahan, secara kelembagaan, apabila mengharapkan kinerja pemerintah kelurahan yang baik maka sebelumnya diperlukan kinerja aparat kelurahan yang baik pula. Kinerja aparat akan baik apabila mempunyai kemampuan berupa keahlian dan adanya motivasi yang menggerakkan. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Prawirosentono, bahwa “kinerja seorang karyawan akan baik bila dia mempunyai keahlian (skill) yang tinggi, bersedia bekerja karena gaji atau diberi upah sesuai dengan perjanjian, mempunyai harapan masa depan lebih baik” (Prawirosentono,1999:3).
Kinerja merupakan seseorang berhubungan pula dengan keahlian dan kompensasi yang diterimanya. Namun sebuah kinerja yang baik harus dapat diukur, hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Dwiyanto, bahwa ada lima indikator utama untuk mengukur kinerja organisasi pemerintahan, yaitu :
1. Responsiveness atau responsivitas, kemampuan organisasi untuk mengenali kebutuhan masyarakat, mengembangkan pelayanan masyarakat sesuai dengan aspirasi masyarakat.
1 Responsibillity atau responsibilitas, menunjuk pada keselarasan antara program dan kegiatan pelayanan dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat, untuk mencapai misi dan kebutuhan organisasi.
2 Accountability atau akuntabilitas, mengukur sejauh mana organisasi pemerintah memperjuangkan aspirasi masyarakat.
3 Produktivitas, Pada umumnya dipahami sebagai hasil antara input dan out put
4 Kualitas Layanan; diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
(Dwiyanto,2002:48-49)

Sebuah organisasi pemerintahan dikatakan memiliki kinerja yang baik, apabila memiliki responsivitas, responsibilitas, akuntabilitas, produktivitas serta kualitas layanan, dan dapat dijalankan secara maksimal sesuai dengan keinginan dan kepuasan dari masyarakat. Maka untuk mengukur kinerja tersebut diatas, penulis mengemukakan definisi operasional yang sesuai dengan konsep di atas, sebagai berikut :
1) Tugas dan Tanggung Jawab
Sebagai seorang pegawai pemerintah kelurahan mempunyai tugas dalam memberikan pelayanan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Pelaksanaan tugas yang dijalankan oleh para pegawai kelurahan akan dapat dilaksanakan secara maksimal, apabila dalam pelaksanaan tugasnya para pegawai dapat memahami tugas pokok dan fungsi sebagai pegawai pemerintahan, yang mempunyai tugas membantu memberikan pelayanan kepada masyarakat secara maksimal.
Selain pelaksanaan tugas yang dijalankan oleh para pegawai dapat dilaksanakan secara maksimal, para pegawai tersebut juga mempunyai tanggung jawab terhadap tugas yang telah diberikan oleh lurah. Dengan kemampuan menyelesaikan tugas yang diembannya, maka para pegawai dapat melaksanakan tanggung jawab yang telah diberikan oleh lurah terhadap pegawainya.
Seorang lurah selain memusatkan perhatiannya pada tugas, beliau juga mengorientasikan para pegawainya agar dalam menjalankan tugasnya dapat dilaksanakan secara secara optimal dan menghasilkan kinerja yang diharapkan oleh banyak pihak, yaitu bisa membantu memberikan pelayanannya secara maksimal. Lurah Kalibata dalam menekankan orientasi pada para pegawainya lebih terfokus pada pemberian motivasi, agar dalam melaksanakan tugasnya pegawai kelurahan dapat meningkatkan kinerjanya untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Lurah Kalibata memberikan motivasi kepada para pegawai kelurahan dengan cara memberikan kepercayaan dalam melaksanakan tugas yang dijalankan oleh para pegawainya sesuai dengan keahlian dibidangnya masing-masing.
2. Sikap Kerja
Semangat kerja para pegawai akan dapat ditingkatkan, apabila dalam pelaksanaan tugas sehari-hari para pegawai tersebut dapat menjaga sikap kerja yang dapat menciptakan hubungan yang lebih dekat antara para pegawai dan pemimpinnya. Dengan adanya hubungan kerja yang lebih dekat, maka para pegawai dapat merasa bahwa organisasi tempatnya bekerja menjadi miliknya dan akan berusaha mencapai tujuan organisasi secara maksimal.
Kinerja para pegawai akan dapat ditingkatkan secara maksimal, apabila dalam pelaksanaan tugas yang dijalankan para pegawainya dapat dilakukan secara profesional sesuai dengan tanggung jawab dan keahlian yang dimilikinya. Dengan menumbuhkan sikap profesionalisme, maka para pegawai akan dapat melaksanakan tugas secara teratur dan terarah demi mencapai tujuan organisasi yang lebih maju.
Berdasarkan pemaparan teori-teori di atas maka penulis dapat meyimpulkan suatu sintesa Meningkatan Kinerja Pegawai adalah adanya dorongan/motivasi dari pimpinan untuk meningkatkan produktivitas kerja pegawai dan adanya komunikasi yang baik antara pimpinan dan bawahan yanng ditandai dengan peningkatan kebutuhan pegawai sehingga terciptanya kepuasan kerja.
Indikator-indikator dari Meningkatan Kinerja Pegawai adalah:
1 Adanya dorongan
2. Produktivitas kerja
3. Adanya komunikasi
4. Peningkatan kebutuhan
5. Kepuasan Kerja.

B. Kerangka Pemikiran
Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, penulis menggunakan proposisi. Proposisi. Pengertian proposisi menurut Masri Singarimbun dalam bukunya Metode Penelitian Survey, bahwa proposisi merupakan hubungan yang logis antara dua konsep (Singarimbun,1989:34).
Proposisi biasanya disajikan dalam bentuk suatu kalimat yang menunjukkan hubungan antara dua konsep. Proposisi dalam penelitian ini adalah :
Kepemimpinan lurah dalam meningkatkan kinerja pegawai pemerintah Kelurahan Kalibata harus dapat memahami kebutuhan yang diperlukan oleh para pegawai agar para pegawai dapat lebih bersemangat dalam menjalankan tugasnya dan dapat menghasilkan kualitas layanan secara maksimal. Kebutuhan yang diperlukan para pegawai dapat berupa pemberian kesejahteraan atau kompensasi, sesuai dengan yang telah dilakukan oleh para pegawai.
Gambar 2


















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan penelitian analisa kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif analitis. Penelitian deskriptif dimaksudkan untuk memperoleh gambaran secara sistemamtik, faktual dan akurat mengenai faktor-faktor, sifat-sifat serta hubungan fenomena yang diselidiki sehingga tujuan penelitian dapat tercapai.
Pengertian metode deskriptif tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain Mardalis (1999:26) mengatakan bahwa “Metode deskriptif tidak menguji hipotesa atau menggunakan hipotesa hanya mendeskripsikan informasi apa adanya sesuai dengan variabel-variabel yang diteliti”. Hal ini disepakati oleh Taliziduhu Ndraha (1995:39) yang mengatakan bahwa “penelitian deskripstif tidak bermaksud mengidetifikasikan hubungan antar variabel, oleh karena itu berbeda dengan penelitian analitik dan penelitian deskriptif tidak memerlukan hipotesa”.
Ciri-ciri pokok penelitian deskriptif menurut Hadari Nawawi (2001:64) adalah memusatkan pada masalah yang ada pada saat penelitian dilakukan (saat sekarang) atau masalah-masalah yang bersifat aktual. Dan menggambatkan fakta-fakta tentang masalah-masalah yang diselidiki sebagaimana adanya diiringi dengan interpretasi rasional yang cukup.
Dari beberapa pendapat para pakar tersebut, dapat disimpulkan bahwa metode penelitian deskriptif hanya berusaha untuk menggambarkan fakta-fakta yang ada kemudian dianalisa dan ditafsirkan untuk selanjutnya disimpulkan. Tidak menggunakan hipotesa ataupun pengujian hipotesa. Seperti pada umumnya penelitian deskriptif ini tidak terbatas hanya mengumpulkan data dan menyusunya, melainkan meliputi analisa serta interpretasi tentang arti data tersebut. Untuk itu dalam penelitian ini, penulis berusaha untuk mempelajari dan selanjutnya menggambarkan atau melukiskan disertai interpretasi tertentu terhadap topik penelitian ini yaitu “ Peran Kepemimpinan Lurah Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administrasi Jakarta Selatan.
Untuk memperoleh data dan keterangan yang aktual dan objektif maka penulis menggunakan penelitian lapangan yaitu melakukan penelitian langsung pada objeknya yang bertujuan untuk mendapatkan data dan fakta di lokasi penelitian. Dalam menganalisis data, penulis menggunakan teknik perhitungan sederhana. Penulis menggunakan skala Likert untuk keperluan analisa data secara kuantitatif. Sugiyono (2004:73) menjelaskan “Skala Likert adalah skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial yang ditetapkan secara spesifik oleh penulis.



B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan obyek yang diteliti sebagaimana yang dikemukakan Hadari Nawawi (2001:141) bahwa “Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda,hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai test atau peristiwa-peristiwa sebagaimana sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian”.
Sementara itu, Sudjana dalam Hadari Nawawi (2001:141) mengungkapkan bahwa populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin,baik hasil menghitung maupun pengukuran,kuantitatif maupun kualitatif dan karakteristik tertentu mengenai sejumlah atau sekumpulan obyek yang lengkap dan jelas yang dipelajari sifat-sifatnya.
Selanjutnya menurut M. Mochtar (2001;148) menjelaskan bahwa”Populasi atau universe dalam suatu penelitian adalah keseluruhan atau totalitas dari unit yang akan diteliti karakteristiknya, kondisinya, sifat-sifatnya san sebagainya”.
Berkenaan pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa populasi adalah totalitas dari obyek penelitian yang dapat berupa manusia,benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, milai test atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang dipelajari sifat-sifatnya dalam suatu penelitian. Dengan demikian yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Aparat Kelurahan Kalibata sebanyak 16 orang.
b. Masyarakat di Kelurahan Kalibata sebanyak 36.334 orang.

2. Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi yang menjadi sumber data yang sebenarnya dalam suatu penelitian. Mengenai yang ditetapkan sebagai sampel merupakan yang dapat dianggap mewakili populasi secara keseluruhan. Berkenaan dengan itu, Suharsimi Arikunto (1998:117) mengemukakan bahwa “Jika kiat hanya igin meneliti sebagian dari populasi , maka penelitian tersebut penelitian sampel”. Sampel adalah sebagian wakil dari populasi yang diteliti. Dinamakan penelitian sampel apabila kita bermaksud mengeneralisasikan hasil penelitian sampel. Dengan demikian hasil penelitian hanya melibatkan sampel tetapi kesimpulan yang ditarik berlaku juga bagi populasi.
Selanjutnya mengenai pengertian sampel, Hadari Nawawi (2001:144) menyatakan bahwa “sampel secara sederhana diartikan sebagai bagian dari populasi yang menjadi sumber data sebenarnya dalam suatu penelitian.Dengan kata lain sampel adalah bagian dari populasi untuk mewakili seluruh populasi.
Adapun tentang jumlah sampel yang akan diambil dari keseluruhan populasi tidak ada pedoman yang mutlak, seperti yang dijelaskan Sutrisno Hadi (1984:130) bahwa”Sebenarnya tidak ada ketepatan mutlak berapa persen sampel yang harus diambil dari populasi”. Oleh karena itu penulis menggunakan teori proporsive sampling (Sugiyono,2004:62), dan menentukan jumlah sampel sebesar 40 orang, yaitu 10 dari aparat kelurahan dan 30 dari masyarakat yang dipilih secara acak (random) di wilayah Kelurahan Kalibata.


C. Variabel Penelitian
a. Definisi Konseptual
Model Paradigma Penelitian






Keterangan :
1. Variabel Bebas (Independent Variable) adalah Peran Kepemimpinan Lurah.
2. Variabel Terikat (Dependent variabel) adalah Meningkatkan Kinerja Pegawai
3. Variabel Epsilon () adalah variabel-variabel lain yang mempengaruhi variabel Y diluar variabel X tetapi tidak diteliti.


b. Definisi Opersional
Operasionalisasi konsep atau definisi operasional adalah definisi yang dibut dengan tujuan agar variabel penelitian yang abstrak menjadi lebih konkrit dan dapat diukur. Moh,Nazir (1999:52) mengatakan bahwa “Definisi operasional sebagai suatu definisi yang diberikan kepada sesuatu variabel atau konstrak dengan cara memberikan arti atau menspesifikasikan kegiatan atau pun memberikan suatu operasional yang diperlukan untuk mengukur konstrak atau variabel tertentu”.
Sugiyono (2004:38) mengemukakan bahwa”Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh penulis untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut,kemudian ditarik kesimpulannya”.
Memahami variabel dan kemapuan menganalisis atau mengidentifikasi setiap variabel menjadi variabel yang lebih kecil merupakan syarat mutlak bagi setiap penulis. Memecah-mecah variabel menjadi variabel disebut kategori dasar yang harus dikumpulkan oleh penulis, kategori ini dapat diartikan sebagai indikator variabel. Untuk lebih jelasnya makla penulis menampilkan dalam Tabel Variabel Penelitian sebagai berikut :

Tabel 1
Variabel Penelitian
Variabel Peran Kepemimpinan Lurah (X)
Variabel Indikator Jumlah Butir


Peran Kepemimpinan Lurah
(x) 1. Kemampuan Memimpin 2
2. Kualitas Memimpin 2
3. Melaksanakan kewenangan 2
4. Melaksanakan koordinasi 2
5. Bertanggungjawab 2
Jumlah 10




Variabel Meningkatkan Kinerja Pegawai (Y)
Variabel Indikator Jumlah Butir

Meningkatkan Kinerja Pegawai (Y) 1. Adanya dorongan 2
2. Produktivitas kerja 2
3. Adanya Komunikasi 2
4. Peningkatan Kebutuhan 2
5. Kepuasan Kerja 2
Jumlah 10

D. Teknik Pengumpulan Data
1. Studi kepustakaan yakni dengan mempelajari buku-buku,literatur, peraturan-peraturan perundang-undangan atau dokumentasi lainnya yang terkait dengan penelitian ini.
2. Teknik kuesioner yang dilakukan peneliti dengan cara membagi daftar penyataan (kuesioner) kepada responden untuk dijawab dengan didampingi oleh peneliti guna menghindari pernyataan yang kurang dipahami.
Instrumen penelitian tersebut disusun dalam bentuk kuesioner dengan skala Likert yang menyediakan empat alternatif pilihan yang disediakan terdiri atas : Sangat setuju, Setuju, Tidak setuju dan Sangat Tidak setuju.




Tabel 2
Klasifikasi skor jawaban responden

No Klasifikasi Jawaban Kode Skor
1 Sangat Setuju SS 4
2 Setuju S 3
3 Tidak Setuju TS 2
4 Sangat Tidak Setuju STS 1

E. Teknik Analisa Data
Analisis data adalah proses penyederhanaan kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan di interprestasikan. Analisis data juga berarti pengelompok, membuat suatu urutan serta mempersingkat data sehingga mudah dibaca dan dipahami.
Analisa data hasil penelitian ini menggunakan teknik tabulasi silang menurut Kuntjoroningrat (1980:351) teknik tabulasi silang adalah prosedur kearah penemuan ada tidaknya pengaruh antara variabel. Langkah selanjutnya yang dapat ditempuh adalah mengukur derajat besarnya pengaruh atau asosiasi antara 2 (dua) variabel, dengan teknik ini hasil yang diperoleh akan lebih cepat dan cermat.
Sementara itu, untuk mengukur besarnya pengaruh dari variabel X, yaitu Peran Kepemimpinan Lurah dalam variabel Y, Meningkatkan Kinerja Pegawai, penulis menggunakan rumus Yule’s Q (Koefisien Yule) dari Burhan Bungin (2005:214),sbb:
(BxC) – (AxD)
Qxy =
(BxC) + (AxD)
Keterangan :
- Qxy :Nilai Yulis’Q yang dicari
- A,B,C.dan D : bilangan yang diperoleh dalam kotak A,B,C,dan D
Tabel 3
Derajat Koefisien Asosiasi

Besarnya nilai Q Interprestasi
0,01 – 1,00
-0,00
Terdapat pengaruh
Tidak terdapat pengaruh
Sumber :Kuntjoroningrat,1981 : 350
Untuk menginterpretasikan kekuatan peran kepemimpian lurah dalam meningkatkan kinerja pegawai, maka digunakan tabel interpretasi Nilai Q,berdasarkan pendapat Davis:2001 sebagai berikut :

Tabel 4
Besaran Nilai Q

Besaranya Nilai Q Keterangan
0 – ,29 atau 0-+29
30 – 49
50 – 69
70 - Small A = Kecil kekuatannya
Moderate A = Cukup
Substansial A = Kuat
Very Strong A = Sangat Kuat

Setelah diketahui kriteria yang diperoleh dari nilai jawaban rata-rata,langkah selanjutnya adalah menginterpretasikan nilai- rata-rata dalam suatu kalimat penyataan yang jelas, dapat dipahami dan disimpulkan terhadap indikator-indikator yang sedang diteliti.
F. Tempat dan waktu Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Lokasi Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Kalibata,Kecamatan Pancoran Kota Admimistrasi Jakarta Selatan Provinsi DKI Jakarta
2. Waktu Penelitian
Jadwal Penelitian ini selama 12 bulan dilakukan dari bulan Mei 2010 sampai dengan Mei 2011.Untuk itu dibuat rancangan waktu penelitian sebagaimana yang tercantum di bawah ini :
Tabel 5
Jadwal Penelitian
No Rencana Kegiatan Penelitian Bulan/Tahun 2010 Bulan/Tahun 2011
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Persiapan Survei √
2 Bimbingan Proposal √ √ √
3 Pembuatan kuesioner √ √
4 Sidang Usulan Penelitian √ √
5 Olah Penelitian √ √ √ √
6 Penulisan & Bimbingan Bab IV & V √ √ √ √ √ √
7 Sidang Komprehensif √ √ √
8 Wisuda Tahun 2011 √


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN
1. Kondisi Geografis Kelurahan Kalibata, Kecamatan Pancoran, Kota Administrasi Jakarta Selatan
Kelurahan Kalibata adalah.merupakan salah satu dari 6 (enam) kelurahan di Kecamatan Pancoran, Kota Administrasi Jakarta Selatan sesuai Surat Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 1815 Tahun 1989 bahwa luas wilayah Kelurahan Kalibata adalah 228,60 Ha yang berbatasan dengan :
- Sebelah Utara : Berbatasan dengan jalan Kalibata Utara Kel.Duren Utara
- Sebelah Timur : Berbatasan dengan Jalan Rawajati Barat Kel. Rawajati
- Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Jalan Empang Tiga Kel. Pejaten Timur
- Sebelah Barat : Berbatasan dengan kali Serua Mampang Kel. Bangka

Kelurahan Kalibata terdiri dari 10 RW dan133 RT. Jumlah Penduduk pada Akhir Juni 2009 sebanyak 6.976 KK atau 36.405 Jiwa. Penduduk di wilayah Kalibata meyoritas penghuninya adalah penduduk asli Betawi memiliki mata pencaharian dagang dan wiraswasta.



2. Perangkat Kelurahan
Penyelenggaran Administrasi Kepegawaian Pemerintah Kelurahan Kalibata mempunyai pegawai sebanyak 16 orang. Adapun komposisi tingkat pendidikan, jenis pegawai, tingkat kepangkatan/golongan dan jabatan perangkat kelurahan sebagai berikut :
Tabel 6
Data pegawai Menurut Tingkat Pendidikan

No Pendidikan Jumlah Ket
1 SD/Sederajat -
2 SLRTP/Sederajat -
3 SLTA/Sederajat 4
4 Sarjana Muda/Sederajat 1
5 S1 7
6 S2 1
Jumlah 13

Tabel 7
Data Pegawai Menurut Jenisnya
No Jenis Pegawai Jumlah Ket
1 Pegawai Pusat/Diperbantukan --
2 Pegawai Pusat/Dipekerjakan -
3 Pegawai Otonom 12
Jumlah 12
Tabel 8
Data Pegawai Menurut Golongan
No Golongan/Ruang Jumlah Ket
1 Penata Tk I (III/d) 2
2 Penata (II/c) 3
3 Penata Muda Tk.I (III/b) 3
4 Pengatur Tk.I (II/d) 2
5 Pengatur (II/c) -
6 Pengatur Muda Tk.I (II/b) -
7 Pengatur Muda (II/a) 1
Jumlah 13

Tabel 9
Data Pegawai Pemerintah Kelurahan Kalibata

No Nama Pangkat
Gol. Jabatan
1 Nurdin,S.Sos III/d Lurah
2 Rukmini,S.Sos III/c Wakil Lurah
3 Eko Admodjo III/c Sekretaris
4 Taufik,S.Sos III/b Kasi Pemerintahan,Keamanan & Ketertiban
5 Giman III/c Kasi Perekonomian
6 Bunyamin III/b Kasi Prasarana & Sarana
7 Nuraeni,SKM II/d Kasi Kesejahteraan Masyarakat
8 Eko Putranto,S.Sos II/b Kasi Kebersihan & Lingkungan Hidup
9 Moh.Toha S.Sos,M.si III/d Kasi Pelayanan Umum
10 Nikmah S.A Kadir II/d Staf
11 A.Fauzi II/c Staf
12 Dina Roslina,S.STP III/a Staf
13 Patmos Pasaribu III/a Satgas Satpol PP
14 M. Nasir III/b Kasi Kependudukan
15 Abdul Haris,SH III/d PLKB
16 Komsiati,SH III/c PLKB

3.Bidang Pemeritahan
a. Dewan Kelurahan
Pengurus Dewan Kelurahan Kelurahan Kalibata berjumlah 10 orang yang terdiri dari 9 (sembilan) Pria dan 1 (satu) Wanita.
b. Pembinaan RT dan RW
Adapun Jumlah RT-RW di Kelurahan Kalibata sebagai berikut :
Tabel 10
Jumlah RT-RW Di Kelurahan Kalibata
No RW Jumlah RT Ket
1 RW.01 11 Kalibata Timur
2 RW.02 14 Kalibata Utara
3 RW.03 13 Kalibata tengah
4 RW.04 14 Kalibata Selatan
5 RW.05 15 Kalibata Pulo
6 RW.06 20 Kompleks POMAD
7 RW.07 12 Kalibata Utara
8 RW.08 11 Kalibata Timur
9 RW.09 12 Kalibata selatan
10 RW.10 11 Kalibata Timur
Jumlah 133



c. Kependudukan
Komposisi penduduk di Kelurahan Kalibata pada tahun 2009 berjumlah:
• Jumlah Penduduk Laki-laki : 18.842 jiwa
• Jumlah Penduduk Perempuan : 17.796 jiwa
d. Kesejahteraan Masyarakat
Tabel 11
Sarana Kesehatan
No Sarana Kesehatan Jumlah Ket
1 Puskesmas 2
2 Posyandu 33
3 Pos Kesehatan RW 1
4 Rumah Bersalin 1
5 Poliklinik 3
6 Bidan 15
7 Dokter Umum 12
8 Dukun Beranak/Bayi -
9 Apotik 4
10 Kader Kesehatan 24
11 PLKB 2
12 Pembantu Pembina KB RW 10
13 Sub PPKB RT 133

Tabel 12
Sarana Pendidikan

e.Pendidikan
No Nama Sarana Pendidikan Jumlah Ket
1 TK 3
2 SDN/MI/MD 17
3 SMP/MTs 4
4 SLTA/SMK/MA 3
Jumlah 27


4.Bidang Keagamaan
Tabel 13
Komposisi Penduduk Menurut Agama
No Agama Jumlah Ket
1 Islam 35.167
2 Protestan 1.036
3 Katholik 216
4 Hindu 112
5 Budha -
Jumlah 36.531



Tabel 14
Sarana Peribadatan
No Sarana Peribadatan Jumlah Ket
1 Masjid 15
2 Musholah 23
3 Gereja 1
4 Pura 1
Jumlah 40

B. Pembahasan
1. Deskripsi Data Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian dan penyebaran kuesioner yang telah dilaksanakan dari tanggal 20 Pebruari hingga 4 Maret 2011 di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administrasi Jakarta Selatan Provinsi DKI Jakarta, telah didapatkan sejumlah informasi dan data empiris dalam rangka mengetahui Peran Kepemimpinan Lurah (X) terhadap variabel Meningkatkan Kinerja Pegawai (Y) di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administrasi Jakarta Selatan Provinsi DKI Jakarta.
Adapun instrument penelitian yang digunakan adalah kuesioner yang berisi 20 butir pernyataan dengan pilihan 4 skor jawaban kepada 40 orang responden yang telah memenuhi kriteria untuk dijadikan sebagai sampel penelitian, yang terdiri dari 10 orang Pegawai Kelurahan dan 30 orang masyarakat di Kelurahan Kalibata .
Penarikan kuesioner telah dilakukan pada tanggal 4 Maret 2011 semua kuesioner telah dikembalikan dalam kondisi baik dan lengkap.
Untuk lebih memudahkan penyajian data hasil penelitian yang telah didapatkan, maka penguraian hasil penelitian ini akan diuraikan sesuai dengan masing-masing variabel penelitian.
a. Variabel (X)
Dari 20 unit kuesioner yag telah disebarkan kepada 40 responden di Kelurahan Kalibata Provinsi DKI Jakarta, seluruh kuesioner telah dikembalikan dalam keadaan baik dan telah terisi seluruhnya.
Adapun kriteria skor jawaban dari 10 butir pernyataan yang terkait dengan variabel Peran Kepemimpinan Lurah adalah :

Klasifikasi Skor JawabanResponden
Jawaban Pernyataan Skor Nilai Jawaban
Sangat Baik(SB) 4
Baik (B) 3
Tidak Baik (TB) 2
Sangat Tidak Baik (STBS) 1

Untuk mengetahui hasil penelitian terhadap masing-masing indikator penelitian dari variabel Peran Kepemimpinan Lurah, akan diuraikan sebagai berikut:


1) Hasil tanggapan responden tentang Indikator Kemampuan Memimpin

Untuk indikator Kemampuan memimpin, hasil tanggapan yang diberikan oleh 40 orang responden di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, yang dijadikan sebagai responden adalah sebagai berikut :
Tabel 15
Tanggapan Responden untuk Indikator Kemampuan Memimpin

No Jawaban Nomor Butir Frekuensi Persentase
Responden Instrumen (%)
1 2
1 Sangat Setuju (ST) 15 11 26 43,3%
2 Setuju ( S ) 25 28 53 55%
3 Sanagt Tidak Setuju(STS) - - - -
4 Tidak Setuju (TS) - 1 1 1,7%
Jumlah 40 40 80 100 %
Sumber : Analisis Data 2011
Dari tabel di atas,maka dapat ditunjukkan bahwa dari 80 skor jawaban yang diberikan oleh 40 orang responden di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, didapatkan 26 Skor jawaban atau 43,3% dari responden yang menyatakan Baik, 33 skor jawaban atau 55% dari responden yang menyatakan Cukup Baik, dan 1 Skor jawaban atau 1,7% dari responden yang menyatakan Kurang Baik dan tidak ada Skor jawaban atau responden yang menyatakan Tidak Baik.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Kemampuan Memimpin sudah Baik hal ini ditunjukkan dengan banyaknya skor jawaban Baik dan Cukup Baik yang diberikan oleh responden yang diakumulasikan mencapai 98,3%.
2) Hasil tanggapan responden tentang Indikator Kualitas Memimpin

Untuk indikator Kualitas Memimpin , hasil tanggapan yang diberikan oleh 40 responden di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, yang dijadikan sebagai responden adalah sebagai berikut :
Tabel 16
Tangggapan Responden untuk indikator Kualitas Memimpin
No Jawaban Nomor Butir Frekuensi Persentase
Responden Instrumen (%)
3 4
1 Sangat Setuju (ST) 14 15 29 48,33%
2 Setuju (S) 25 24 49 48,33%
3 Sangat Tidak Setuju (STS) 1 1 2 3,34%
4 Tidak Setuju (TS) - - - -
Jumlah 40 40 80 100%
Sumber : Analisis Data 2011
Dari tabel di atas,maka dapat ditunjukkan bahwa dari 80 skor jawaban yang diberikan oleh 40 orang responden di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, didapatkan 29 Skor jawaban atau 48,33% dari responden yang menyatakan Baik, 49 skor jawaban atau 48,33% dari responden yang menyatakan Cukup Baik, 2 Skor jawaban atau 3,34% dari responden yang menyatakan Kurang Baik, dan tidak ada Skor jawaban atau responden yang Menyatakan Tidak Baik.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Kualitas Memimpin Lurah Kalibata Kecamatan Pancoran, sangat baik. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya skor jawaban Baik dan Cukup Baik yang diberikan oleh responden yang diakumulasikan mencapai 96,66%.

3) Hasil tanggapan responden tentang Indikator Melaksanakan Kewenangan

Untuk indikator Melaksanakan Kewenangan, hasil tanggapan yang diberikan oleh 40 orang responden di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administrasi Jakarta Selatan, yang dijadikan sebagai responden adalah sebagai berikut :
Tabel 17
Tanggapan Responden untuk indikator Melaksanakan Kewenangan
No Jawaban Nomor Butir Frekuensi Persentase
Responden Instrumen (%)
5 6
1 Sangat Setuju (ST) 16 13 29 48,33%
2 Setuju (S) 23 26 49 48,33%
3 Sangat Tidak Setuju (STS) 1 1 2 3,34%
4 Tidak Setju (TS) - - - -
Jumlah 40 40 80 100%
Sumber : Analisis Data 2011
Dari tabel di atas,maka dapat ditunjukkan bahwa dari 80 skor jawaban yang diberikan oleh 40 orang responden di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, didapatkan 29 Skor jawaban atau 48,33% dari responden yang menyatakan Baik, 49 skor jawaban atau 48,33% dari responden yang menyatakan Cukup Baik, 2 Skor jawaban atau 3,34% dari responden yang menyatakan Kurang Baik, dan tidak ada Skor jawaban atau responden yang Menyatakan Tidak Baik.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Melaksanakan Kewenangan sangat baik. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya skor jawaban Baik dan Cukup Baik yang diberikan oleh responden yang diakumulasikan mencapai 96,66%.


4) Hasil tanggapan responden tentang Indikator Melaksanakan Koordinasi

Untuk indikator Mengarahkan, hasil tanggapan yang diberikan oleh 40 orang responden di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, yang dijadikan sebagai responden akan ditunjukan dalam tabel berikut ini :
Tabel 18
Tanggapan Responden untuk indikator Melaksanakan Koordinasi
No Jawaban Nomor Butir Frekuensi Persentase
Responden Instrumen (%)
7 8
1 Sangat Setuju (ST) 10 18 28 46,7%
2 Setuju (S) 28 21 49 48,3%
3 Sangat Tidak Setuju (STS) 1 1 2 3,3%
4 Tidak Setuju (TS) 1 - 1 1, 7%
Jumlah 40 40 80 100%
Sumber : Analisis Data 2011
Dari tabel di atas,maka dapat ditunjukkan bahwa dari 80 skor jawaban yang diberikan oleh 40 orang responden di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, didapatkan 28 Skor jawaban atau 46,7% dari responden yang menyatakan Baik, 49 skor jawaban atau 48,3% dari responden yang menyatakan Cukup Baik, 2 Skor jawaban atau 3,3% dari responden yang menyatakan Kurang Baik, dan 1 Skor jawaban atau 1,7% dari responden yang Menyatakan Tidak Baik.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Melaksanakan Koordinasi dalam mengarahkan bawahannya di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya skor jawaban Baik dan Cukup Baik yang diberikan oleh responden yang diakumulasikan mencapai 95%.
5) Hasil tanggapan responden tentang Indikator Bertanggung Jawab

Untuk indikator Pelayanan Masyarakat, hasil tanggapan yang diberikan oleh 40 orang responden di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, yang dijadikan sebagai responden adalah sebagai berikut :
Tabel 19
Tanggapan Responden untuk indikator Bertanggung Jawab
No Jawaban Nomor Butir Frekuensi Persentase
Responden Instrumen (%)
9 10
1 Sangat Setuju (ST) 16 12 28 46,7%
2 Setuju (S) 22 25 47 45%
3 Sangat Tidak Setuju (STS) 1 2 3 5%
4 Tidak Setuju (TS) 1 1 2 3,3%
Jumlah 40 40 80 100%
Sumber : Analisis Data 2011
Dari tabel di atas,maka dapat ditunjukkan bahwa dari 80 skor jawaban yang diberikan oleh 40 orang responden di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, didapatkan 28 Skor jawaban atau 46,7% dari responden yang menyatakan Baik, 47 skor jawaban atau 45% dari responden yang menyatakan Cukup Baik, 3 Skor jawaban atau 5% dari responden yang menyatakan Kurang Baik, dan 2 Skor jawaban atau 3,7% dari responden yang Menyatakan Tidak Baik.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Bertanggung Jwab sangat baik. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya skor jawaban Baik dan Cukup Baik yang diberikan oleh responden yang diakumulasikan mencapai 91,7%.
Dari uraian hasil jawaban responden mengenai masing-masing indikator variabel Peran Kepemimpinan Lurah (X) di atas, maka dapat diakumulasikan bahwa :
1. Total skor jawaban responden yang menyatakan Sangat Setuju adalah 164
2. Total skor jawaban responden yang menyatakan Setuju adalah 183
3. Total skor jawaban responden yang menyatakan Sangat Tidak Setuju adalah 9
4. Total skor jawaban responden yang menyatakan Tidak Setuju adalah 4
Dari akumulasi skor pernyataan yang diberikan oleh responden di atas, maka skor keseluruhan yang didapatkan dengan menggunakan skala Likert adalah sebagai berikut :
Tabel 20
Skor Keseluruhan Variabel Peran Kepemimpinan Lurah (X)
dihitung dengan Skala Likert
Tanggapan Responden Jumlah Nilai Perhitungan Total
Skor Skor Skor Skor
Sangat Setuju (ST) 164 4 164 x 4 656
Setuju (S) 183 3 183 x 3 549
Sangat Tidak Setuju (STS) 9 2 9x 2 18
Tidak Setuju (TS) 4 1 4 x 1 4
Skor keseluruhan Variabel X 1227
Sumbr : Analisa Data, 2011
b. Meningkatkan Kinerja Pegawai
Dari 20 unit kuesioner yang telah didistribusikan kepada 40 responden di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, pada tanggal 20 Februari 2011 seluruh kuesioner telah dikembalikan dalam keadaan baik dan telah terisi seluruhnya pada tanggal 4 Maret 2011
Untuk mengetahui hasil penelitian terhadap masing-masing indikator penelitian dari variabel Meningkatkan Kinerja Pegawai (Y) akan diuraikan sebagai berikut :
1) Hasil tanggapan responden indikator Adanya Dorongan

Untuk indikator Adanya Dorongan ,hasil tanggapan yang diberikan oleh 40 orang responden di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, yang dijadikan sebagai responden adalah sebagai berikut :
Tabel 21
Tanggapan Responden untuk Adanya Dorongan
No Jawaban Nomor Butir Frekuensi Persentase
Responden Instrumen (%)
1 2
1 Sangat Setuju (ST) 15 13 28 46,7%
2 Setuju (S) 23 27 30 50%
3 Sangat Tidak Setuju (STS) 2 - 2 3,3%
4 Tidak Setuju (TS) - - - -
Jumlah 40 40 80 100%
Sumber : Analisis Data 2011
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat ditunjukan bahwa dari 80 skor jawaban yang diberikan oleh 40 orang responden di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, didapatkan 28 skor jawaban atau 46,7% dari responden yang menyatakan Baik, 50 Skor jawaban atau 50% dari responden yang menyatakan Cukup Baik, 2 skor jawaban atau 3,3% yang menyatakan Kurang Baik dan tidak ada Skor jawaban atau responden yang menyatakan Tidak Baik. Dari hasil tanggapan responden diatas, maka dapat dismpulkan bahwa Adanya Dorongan dari pimpinan sudah baik. Hal ini ditunjukan dengan banyaknya skor jawaban Baik dan Cukup Baik yang diberikan oleh responden yang diakumulasikan mencapai 96,7%.
2) Hasil tanggapan responden tentang Indikator Produktivitas Kerja
Untuk indikator Produktivitas Kerja, hasil tanggapan yang diberikan oleh 40 orang responden di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, yang dijadikan sebagai responden adalah sebagai berikut :
Tabel 22
Tanggapan responden untuk Indikator Produktivitas Kerja
No Jawaban Nomor Butir Frekuensi Persentase
Responden Instrumen (%)
3 4
1 Baik 14 11 25 41,6%
2 Cukup Baik 24 29 53 55%
3 Kurang Baik 1 - 1 1,7
4 Tidak Baik 1 - 1 1,7
Jumlah 40 40 80 100%
Sumber : Analisis Data 2011
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat ditunjukan bahwa dari 60 skor jawaban yang diberikan oleh 40 orang responden di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, didapatkan 25 skor jawaban atau 41,6% dari responden yang menyatakan Baik, 53 Skor jawaban atau 55% dari responden yang menyatakan Cukup Baik, dan 1 skor jawaban atau 1,7% responden yang menyatakan Kurang Baik dan 1 skor jawaban atau 1,7% responden yang menyatakan Tidak Baik.
Dari hasil tanggapan responden diatas, maka dapat disimpulkan bahwa produktivitas kerja yang dilakukan oleh pegawai kelurahan sudah baik. Hal ini ditunjukan dengan banyaknya skor jawaban Baik dan Cukup Baik yang diberikan oleh responden yang diakumulasikan mencapai 96,6%.
3) Hasil tanggapan responden tentang Indikator Adanya Komunikasi
Untuk indikator adanya komunikasi, hasil tanggapan yang diberikan oleh 40 orang responden di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, yang dijadikan sebagai responden adalah sebagai berikut :
Tabel 23
Tanggapan responden untuk Indikator Adanya Komunikasi
No Jawaban Nomor Butir Frekuensi Persentase
Responden Instrumen (%)
5 6
1 Baik 15 19 34 56,7%
2 Cukup Baik 25 21 46 43,3%
3 Kurang Baik - - - -
4 Tidak Baik - - - -
Jumlah 40 40 80 100%
Sumber : Analisis Data 2011
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat ditunjukan bahwa dari 80 skor jawaban yang diberikan oleh 40 orang responden di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, didapatkan 34 skor jawaban atau 56,7% dari responden yang menyatakan Baik, 46 Skor jawaban atau 43,33% dari responden yang menyatakan Cukup Baik, dan tidak ada skor jawaban atau responden yang menyatakan Kurang Baik dan Tidak Baik.
Dari hasil tanggapan responden diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Adanya Komunikasi yang dilakukan oleh pegawai sudah baik. Hal ini ditunjukan dengan banyaknya skor jawaban Baik dan Cukup Baik yang diberikan oleh responden yang diakumulasikan mencapai 100%.
4) Hasil tanggapan responden tentang Indikator Peningkatan Kebutuhan
Untuk indikator Peningkatan Kebutuhan,hasil tanggapan yang diberikan oleh 40 orang responden di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, yang dijadikan sebagai responden adalah sebagai berikut :
Tabel 24
Tanggapan responden untuk Indikator Peningkatan Kebutuhan
No Jawaban Nomor Butir Frekuensi Persentase
Responden Instrumen (%)
7 8
1 Baik 13 13 26 43,3%
2 Cukup Baik 26 27 53 55%
3 Kurang Baik 1 - 1 1,7%
4 Tidak Baik - - - -
Jumlah 40 40 80 100%
Sumber : Analisis Data 2011
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat ditunjukan bahwa dari 80 skor jawaban yang diberikan oleh 40 orang responden di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, didapatkan 25 skor jawaban atau 41,67% dari responden yang menyatakan Baik, 53 Skor jawaban atau 55% dari responden yang menyatakan Cukup Baik, 2 skor jawaban atau 1,7% yang menyatakan Kurang Baik dan tidak ada Skor jawaban atau responden yang menyatakan Tidak Baik.
Dari hasil tanggapan responden diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Peningkatan kebutuhan pegawai sudah baik. Hal ini ditunjukan dengan banyaknya skor jawaban Baik dan Cukup Baik yang diberikan oleh responden yang diakumulasikan mencapai 98,3%.
5) Hasil tanggapan responden tentang Indikator Kepuasan Kerja
Untuk indikator Kepuasan Kerja,hasil tanggapan yang diberikan oleh 40 orang responden di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan yang dijadikan sebagai responden adalah sebagai berikut :
Tabel 25
Tanggapan responden untuk Indikator Kepuasan Kerja
No Jawaban Nomor Butir Frekuensi Persentase
Responden Instrumen (%)
9 10
1 Baik 16 14 30 50%
2 Cukup Baik 24 25 49 48,3%
3 Kurang Baik - 1 1 1,7%
4 Tidak Baik - - - -
Jumlah 40 40 80 100%
Sumber : Analisis Data 2011
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat ditunjukan bahwa dari 80 skor jawaban yang diberikan oleh 40 orang responden di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, didapatkan 30 skor jawaban atau 50% dari responden yang menyatakan Baik, 49 Skor jawaban atau 48,3% dari responden yang menyatakan Cukup Baik, 1 skor jawaban atau 1,7% yang menyatakan Kurang Baik dan tidak ada Skor jawaban atau responden yang menyatakan Tidak Baik.
Dari hasil tanggapan responden diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Kepuasan Kerja sudah baik. Hal ini ditunjukan dengan banyaknya skor jawaban Baik dan Cukup Baik yang diberikan oleh responden yang diakumulasikan mencapai 98,3%.
Dari uraian hasil jawaban responden yang terkait dengan masing-masing indikator variabel Meningkatkan Kinerja Pegawai (Y) di atas, maka dapat diakumulasikan bahwa :
1. Total skor jawaban responden yang menyatakan Baik adalah 143
2. Total skor jawaban responden yang menyatakan Cukup Baik adalah 151
3. Total skor jawaban responden yang menyatakan Kurang Baik adalah 5
4. Total skor jawaban responden yang menyatakan Tidak Baik adalah 1
Dari akumulasi skor pernyataan yang diberikan oleh para responden, maka skor keseluruhan yang didapatkan dengan menggunakan skala Likert adalah sebagai berikut :
Tabel 26
Skor Keseluruhan Variabel Meningkatkan Kinerja Pegawai (Y)
dihitung dengan Skala Likert
Tanggapan Responden Jumlah Nilai Perhitungan Total
Skor Skor Skor Skor
Baik (B) 143 4 143 x 4 572
Cukup Baik (CB) 151 3 151 x 3 453
Kurang Baik (KB) 5 2 5x 2 10
Tidak Baik (TB) 1 1 1 x 1 1
Skor keseluruhan Variabel Y 1036
Sumbr : Analisa Data, 2011




2. Pembahasan Hasil Penelitian
a. Variabel Peran Kepemimpinan Lurah (X)
Berdasarkan data yang telah diperoleh dari hasil penelitian dan penyebaran kuesioner, maka dapat dibuat suatu analisis atau pembahasan mengenai variabel Peran Kepemimpinan Lurah di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan,. Analisis ini dimaksudkan untuk menjawab perumusan masalah yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, yaitu :
“Apakah terdapat Peran Kepemimpinan Lurah Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan?”
Dari perumusan masalah tersebut, maka berdasarkan skor keseluruhan variabel Peran Kepemimpinan Lurah (X) yang telah diperoleh dengan menggunakan skala Likert, dapat dihitung :
Skor Ideal = 4 x 12 x 30 = 1440
Skor Keseluruhan Variabel X = 1227
Untuk mengetahui kondisi Peran Kepemimpinan Lurah di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, dapat digunakan rumus sebagai berikut :
= = 85,2083%

Dengan demikian, kondisi Peran Kepemimpinan Lurah di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, adalah 85,20% dari 100% yang diharapkan, sehingga dapat dikatakan bahwa adalah Baik
c. Variabel Meningkatkan Kinerja Pegawai
Seperti analisis terhadap variabel X, maka penulis memberikan suatu analisis atau pembahasan mengenai variabel Kualitas Meningkatkan Kinerja Pegawai di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, Analisis ini dimaksudkan untuk menjawab perumusan masalah yang telah diuraikan pada bab sebelumya, yaitu:
“Apakah terdapat Peran Kepemimpinan Lurah Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan?”
Dari perumusan masalah tersebut, maka berdasarkan skor keseluruhan variabel Meningkatkan Kinerja Pegawai (Y) yang telah diperoleh dengan menggunakan skala Likert, dapat dihitung:
Skor Ideal = 4 x 10 x 30 = 1200
Skor Keseluruhan Variabel Y = 1036
Untuk mengetahui kondisi Meningkatkan Kinerja Pegawai di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, dapat digunakan rumus sebagai berikut :

= = 86,33
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwaMeningkatkan Kinerja Pegawai di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, adalah 86,33% dari 100% yang diharapkan, sehingga dapat dikatakan bahwa Meningkatkan Kinerja Pegawai di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, adalah Baik
d. Analisis Variabel Peran Kepemimpinan Lurah (X) Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai (Y)
Untuk mengetahui besarnya Peran Kepemimpinan Lurah dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai, maka digunakan tabulasi silang dengan menggunakan rumus Yule’s Q sebagai berikut :

Keterangan :
Q = Koefisien Asosiasi
a = Frekuensi yang terletak pada petak kanan atas
b = Frekuensi yang terletak pada petak kanan bawah
c = Frekuensi yang terletak pada petak kiri atas
d = Frekuensi yang terletak pada petak kiri bawah
untuk mencari nilai a, b, c dan d, maka perlu meninjau kembali hasil penghitungan skor keseluruhan dari variabel Peran Kempimpinan Lurah (X) dan variabel Meningkatkan Kinerja Pegawai (Y).
Adapun persentase hasil jawaban yang diberikan oleh 40 responden mengenai variabel Peran Kepemimpinan Lurah yang diukur dari 5 (lima) indikator adalah sebagai berikut :
Tabel 27
Persentase Skor Jawaban Positif dan Negatif
Variabel Peran Kepemimpinan Lurah (X)
Tanggapan Indikator Hubungan Netralitas Birokrat Persentase Skor
Responden 1 2 3 4 5 Variabel
Negatif 1,7 3,34 3,34 5 8,3 3,61
Positif 98,3 96,66 96,66 95 91,7 96,39
Total 100 100 100 100 100 100
Sumber : Analisi Data, 2011
Dari tabel di atas, maka diperoleh bahwa total persentase skor positif dari variabel Peran Kepemimpinan Lurah adalah 96,39%, sementara total skor negatif adalah 3,61%.
Sedangkan persentase hasil jawaban yang diberikan oleh 40 orang responden mengenai variabel Meningkatkan Kinerja Pegawai yang diukur dari 5 (lima) indikator adalah sebagai berikut :
Tabel 28
Persentase Skor Jawaban Positif dan Negatif
Variabel Meningkatkan Kinerja Pegawai (Y)
Tanggapan Indikator Kualitas Penyelenggaraan Pemilu Persentase Skor
Responden 1 2 3 4 5 Variabel
Negatif 3,3 3,4 0 1,7 1,7 2,02
Positif 96,7 96,6 100 98,3 98,3 97,98
Total 100 100 100 100 100 100
Sumber : Analisi Data, 2011
Dari tabel di atas, maka diperoleh bahwa total persentase skor positif dari variabel Meningkatkan Kinerja Pegawai adalah 97,98%, sementara total skor negatif adalah 2,02%.
Berdasarkan penghitungan keseluruhan pernyataan yang diberikan oleh 40 orang responden di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perbandingan jumlah pernyataan responden antara variabel X dengan Y adalah sebagai berikut :
Tabel 29
Perbandingan Pernyataan Responden
Pernyataan X (%) Y (%) Keterangan
Negatif 3,61 2,02 +
Positif 96,39 97,98 -
Berdasarkan tabel perbandingan responden (Tabel 29) tersebut, maka dapat dihitung besarnya Peran Kepemimpinan Lurah dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, dengan menggunakan rumun Yule’s Q adalah :




Q = 0,2889
Untuk menafsirkan nilai Q yang telah diperoleh dari perhitungan dengan menggunakan rumus Yule’s Q tersebut, maka dapat bepedoman pada tabel berikut ini.
Tabel 30
Derajat Koefisien Asosiasi

Besarnya Nilai Q interpretasi
0,01 - 100 Terdapat peran
-0,00 Tidak terdapat peran
(Sumber: Koentjoroningrat, 1981:350)
Dengan demikian, dapat diasumsikan bahwa terdapat Peran Kepemimpinan Lurah dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, sebesar 0,2889 atau 28,89 % pada derajat koefisien asosiasi diinterpretasikan sebagai terdapat peran, sedangkan sisanya sebesar 71,11% dimiliki oleh variabel-variabel lain yang berpengaruh terhadap Peran Kepemimpinan Lurah dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, namun tidak di teliti dalam Skripsi ini, seperti motivasi pegawai, profesionalitas sumber daya manusia, disiplin, pengawasan melekat, suasana kerja dan lainnya.
Untuk menginterpretasikan kekuatan Peran Kepemimpinan Lurah dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan, , maka digunakan tabel interpretasi nilai Q, berdasarkan pendapat Davis: 1971, sebagai berikut:


Tabel 31
Interpretasi Nilai Q

Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0 - (-29) atau 0 - (+29) Small association Kecil Kekuatannya 
30 - 49 Moderate association Cukup Kuat
50 - 69 Substantial association Kuat
70 - Very strong association Sangat kuat
Sumber : Analisis data Kuesioner,2011
Berdasarkan interval pada tabel interpretsasi nilai Q sebagaimana di atas, maka dapat diketahui tingkat Peran Kepemimpinan Lurah dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administerasi Jakarta Selatan ,berada pada kategori kecil kekuatannya atau memiliki peran Small Assosiation.
Hasil ini menunjukan bahwa adanya peran yang kecil kekuatannya Sehingga model konstelasi hasil penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 3
Model Konstelasi Penelitian
Konstelasi Hasil Penelitian Hubungan Netralitas Birokrat Dalam Penyelenggaraan Pemilu di Kelurahan Pejagalan Kecamatan Penjaringan Kota Administerasi Jakarta Utara .











Keterangan Gambar :
X = Peran Kepemimpinan Lurah
Y = Meningkatkan Kinerja Pegawai
Q = Sebesar 29% ~ 0,2889 yang diinterpretasikan sebagai terdapat peran dari X dalam Y
 = Sebesar 71% terdiri dari motivasi pegawai, kedisiplinan pegawai, pengawasan melekat, suasana kerja dan lainnya.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Dari seluruh rangkaian kegiatan penelitian mulai dari perumusan masalah, penentuan sampel, hingga pengolahan data hasil penelitian melalui tabulasi data dan penghitungan dengan menggunakan skala likert interval 4 (empat), maka kesimpulan hasil dari penelitian dalam rangka untuk mengetahui apakah terdapat Peran Kepemimpinan Lurah Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administrasi Jakarta Selatan Provinsi DKI Jakarta adalah sebagai berikut :
1. Terdapat Peran yang cukup signifikan dari Kepemimpinan Lurah dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administrasi Jakarta Selatan Provinsi DKI Jakarta sebesar 28,89 %. Sedangkan sisanya sebesar 71,11% merupakan variabel-variabel lain yang tidak diteliti (epsilon), yaitu: motivasi pegawai, profesionalitas sumber daya manusia, disiplin, pengawasan melekat, suasana kerja dan lainnya. .
2. Dari hasil pengamatan Peran Kepemimpinan Lurah di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administrasi Jakarta Selatan Provinsi DKI Jakarta baik melalui penghitungan hasil kuesioner ataupun hasil observasi di lapangan, maka Peran Kepemimpinan yang dilakukan oleh Lurah di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administrasi Jakarta Selatan Provinsi DKI Jakarta sudah cukup baik dan perlu tingkatkan lagi.
3. Sedangkan mengenai Meningkatkan Kinerja Pegawai yang dilakukan oleh Pegawai Kelurahan di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administrasi Jakarta Selatan Provinsi DKI Jakarta masih kurang mendapat dukungan dari Kepemimpinan Lurah dalam memberikan motivasi kerja pegawai ,kedisiplinan kerja dan pegawasan melekat di Kelurahan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Administrasi Jakarta Selatan..
B. SARAN
Berdasarkan hasil kesimpulan di atas, maka penulis mencoba untuk memberikan saran- saran sebagai berikut :
1. Perlu contoh yang baik dari Kepemimpinnan Lurah dalam kedisiplinan waktu kerja yang optimal.
2. Perlu ditingkatkan lagi komunikasi dua arah antara pimpinan kantor dengan para pegawainya .
3. Perlu ditingkatkan kesadaran dalam tugas, pokok dan fungsi sehingga meminimalkan konflik internal di lingkup kerja Kelurahan Kalibata






DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta
A. A. Anwar Prabu Mangkunegara,1998, Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.
Abraham Maslow.2000, Motivasi dan Kepribadian, terjemaham Nurul Iman , Pressindo, 2000, Jakarta

Alex Nitisemito,2000. Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi keempat, Gemapustaka, Jakarta.

Armstrong, Michael. 1999. Manajemen Sumber Daya Manusia Stratejik, alih bahasa: Cahayani. Gramedia Pustaka. Jakarta

A Prabu Mangkunegoro.199, Evaluasi Sumber Daya Manusia, Bandung,

As’ad Muh, 2000, Manajemen Personalia dan Kepemimpinan, Pustaka Sinar Harapan, Semarang

Azwar Syafuddin,1998 Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya, Edisi II. Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Badudu, J.S. & Zain, Sutan Mohammad. 2001. Kamus Umum Bahasa Indonesia,Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Bokhori zainun, Manajemen Sumber Daya Manusia, Remaja Rosdakaya. Bandung

Bungin,H.M. Burhan.2008. Metodologi Penelitian Kuantitatif: Komunikasi,Ekonomi, dan Kebijakan Publik serta Ilmu-ilmu Sosial lainnya,

Bernard,H.Russel. Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches.Sage

Couzali Saydam, 2003, Manajemen Sumber Daya Manusia dan Kinerja, Penerbit BPFE, Yogyakarta

Dessler,Gary, Manajemen Sumber Daya Manusia, PT. Indeks Kelompok Gramedia, Jakarta, 2005
H. Malayu S.P Hasibuan, 2000; Manajemen personalia, aplikasi dan pendekatan, Ghalia Indonesia.

-------------------------------, 2002. Manajemen Dasar Pengertian dan Masalah, Gunung Agung, Jakarta,

Hadari Nawawi,2000, MSDM untuk Bisnis yang Kompetitif, Yogyakarta University Press, Yogyakarta

Hani Handoko.2000, Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta : BPFE.

Imam Ghozali, 2006 Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja, Bandung

Kaho, Riwu, 2005, Prospek Otonomi Daerah Di Negara Republik Indonesia,Jakarta : Raja Grafindo Persada

Kartasasmita,Ginandjar. 1996. Pembangunan Untuk Rakyat,Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan,CIDES Jakarta.

Koentjaraningrat.1998.Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Ndraha, Taliziduhu, 1997, Metodologi Ilmu Pemerintahan, Jakarta: Rineka Cipta

Nazir, Mohammad. 2005. Metode Penelitian. Bogor : Ghalia Indonesia.

Nawawi, Hadari. 2004. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta : Gajah Mada University Press
Singarimbun,Masri & Efendi,Sofyan. 1989. Metode Penelitian Survei,Jakarta:LP3ES
Suradinata, Ermaya, 1995, Psikologi Kepegawaian, Bandung: Ramadan

--------------------------, 1998, Administrasi Lingkungan Dan Ekologi Pemerintahan Dalam Pembangunan, Bandung: Citra Grafika

--------------------------, 1998, Manajemen Pemerintahan & Otonomi Daerah, Bandung: Ramadan

-------------------------, 2002, Manajemen Pemerintahan Dan Ilmu Pemerintahan, Jakarta: Vidcodata

--------------------------, 2006, Otonomi Daerah Dan Paradigma Baru Kepemimpinan Pemerintahan Dalam Politik Dan Bisnis, Jakarta: Suara Bebas

Sugiono. 2005. Metode Penelitian Administrasi. Bandung : Alfabeta.

Solihin, Dadang. 2001. Kamus Istilah Otonomi Daerah, Jakarta: ISMEE.

Tangkilisan, Hessel Nogi S. 2005. Manajemen Publik, Jakarta: PT Grasindo.

Pamudji. 1986. “Kepemimpinan Pemerintahan di Indonesia”. Jakarta: Bina Akasara.

Usman Dan Akbar. 1995. Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta : Bumi Aksara

Yukl, Gary. 2005. Kepemimpinan Dalam Organisasi. Jakarta: Indeks Kelompok Gramedia.

B. Dokumen


Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2005 tentang Kelurahan
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2003 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.

Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 159 Tahun 2004 tentang pedoman Organisasi Kelurahan


Diktat
H, Safari Sofyan, 2005. Manajemen Ilmu Pemerintahan. Jakarta : Diktat Kuliah

LAMPIRAN 1
PETUNJUK PENGISIAN KUESIONER
1. Nama :
2. Jabatan/Pekerjaan :
3. Umur :
4. Kecamatan :
5. Desa/Kelurahan :
PETUNJUK MENJAWAB
Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Bapak/Ibu/Sdr/Sdri paling tepat sesuai dengan kenyataam dilapangan,pengalaman, pendapat atau harapan dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Jawaban yang dipilih diberi tanda Ö pada kolom-kolom yang tersedia.
Keterangan:
SS : Sangat Setuju
S : Setuju
TS : Tidak Setuju
STS : Sangat Tidak Setuju




Lampiran : 2
Variabel : Peran Kepemimpinan Lurah
NO. KUESIONER SS S TS STS
1 Bpk/Ibu/Sdr/Sdri setuju bahwa Peran kepemimpinan lurah harus mempunyai kemampuan memimpin yang baik
2 Bpk/Ibu/Sdr/Sdri setuju bahwa Peran kepemimpian lurah sebagai aparat mempunyai kemampuan memimpin yang dapat menjadi panutan stafnya
3 Bpk/Ibu/Sdr/Sdri setuju bahwa Peran kepemimpinan lurah mempunyai kualitas memimpin kelurahan dengan baik
4 Bpk/Ibu/Sdr/Sdri setuju bahwa Peran kepemimpinan lurah mempunyai kualitas memimpin yang dapat dijadikan contoh untuk masyarakat
5 Bpk/Ibu/Sdr/Sdi setuju bahwa Peran kepemimpinan lurah dalam melaksanakan kewenangannya selalu bersandar pada peraturan pemerintah yang berlaku
6 Bpk/Ibu/Sdr/Sdi setuju bahwa Peran kepemimpinan lurah dalam melaksanakan kewenangannya selalu mendahulukan kepentingan pegawai
7 Bpk/Ibu/Sdr/Sdi setuju bahwa Peran kepemimpinan lurah dalam melaksanakan koordinasinya dengan atasannya sesuai dengan program kerjanya
8 Bpk/Ibu/Sdr/Sdi setuju bahwa Peran kepemimpinan lurah dalam melaksanakan koordinasinya dalam melaksanakan programnya selalu mengajak pegawai
9 Bpk/Ibu/Sdr/Sdi setuju bahwa Peran kepemimpinan lurah harus mempunyai tanggungjawab terhadap pekerjaannya
10 Bpk/Ibu/Sdr/Sdi setuju bahwa Peran kepemimpinan lurah harus mempunyai tanggungjawab baik secara materil maupun moril


Lampiran : 3
Variabel : Meningkatkan Kinerja Pegawai

NO. KUESIONER SS S KS TS
1 Bpk/Ibu/Sdr/Sdi setuju meningkatkan Kinerja pegawai akan terlaksana bila adanya dorongan dari pimipinan
2 Bpk/Ibu/Sdr/Sdi setuju meningkatkan Kinerja pegawaakan berhasil jika adanya dorongan dari sesama pegawai
3 Bpk/Ibu/Sdr/Sdi setuju meningkatkan Kinerja pegawadapat meningkatkan kerja pegawai secara individu
4 Bpk/Ibu/Sdr/Sdi setuju meningkatkan Kinerja pegawadapat meningkatkan kerja pegawai secara kolekktif
5 Bpk/Ibu/Sdr/Sdi setuju meningkatkan Kinerja pegawadapat tercipta jika adanya komunikasi antara pimpinan dan bawahan
6 Bpk/Ibu/Sdr/Sdi setuju meningkatkan Kinerja pegawai dapat tercipta jika adanya komunikasi antara sesama pegawai
7 Bpk/Ibu/Sdr/Sdi setuju meningkatkan Kinerja pegawa dapat meningkatkan kebutuhan ekonomi pegawainya
8 Bpk/Ibu/Sdr/Sdi setuju meningkatkan Kinerja pegawadapat meningkatkan kebutuhan kehidupan sosial pegawainya
9 Bpk/Ibu/Sdr/Sdi setuju meningkatkan Kinerja pegawadapat meningkatkan kepuasan kerja pegawai
10 Bpk/Ibu/Sdr/Sdi setuju meningkatkan Kinerja pegawadapat menciptakan kepuasan kerja pegawai



LAMPIRAN 4
Peran Kepemimpinan Lurah sebagai variabel X dengan indikator-indikator sebagai berikut:
Responden Variabel (X) Peran Kepemimpinan Lurah Jumlah
Pernyataan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 1 2 2 3 2 1 3 2 4 4 24
2 3 3 3 2 3 2 2 2 3 3 26
3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
4 4 4 2 3 4 4 4 4 4 4 37
5 2 2 2 3 2 2 3 2 4 4 26
6 3 2 3 3 3 2 3 2 4 2 27
7 4 2 2 1 1 1 1 1 4 4 21
8 4 1 2 1 3 2 4 3 2 3 25
9 3 2 2 3 2 2 3 2 3 4 26
10 4 3 3 2 2 2 4 4 4 4 32
11 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 34
12 2 2 3 3 2 2 3 3 3 3 26
13 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 29
14 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
15 3 2 2 3 2 2 2 3 3 3 25
16 2 2 2 2 1 1 2 1 3 3 19
17 4 2 2 2 3 2 3 2 4 4 28
18 3 1 3 2 3 3 3 3 4 2 27
19 4 2 1 3 2 2 4 1 3 2 24
20 2 2 2 3 3 2 2 2 3 2 23
21 3 2 3 4 3 2 3 3 4 3 30
22 3 1 3 2 3 3 3 3 3 3 27
23 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 28
24 4 2 1 3 1 2 2 1 1 3 20
25 3 1 2 3 2 2 3 2 3 3 24
26 3 2 2 1 2 2 3 2 3 3 23
27 4 4 4 3 3 3 4 4 4 4 37
28 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 36
29 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 38
30 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
31 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 32
32 4 4 3 3 4 4 3 3 4 4 36
33 3 3 3 3 3 3 2 2 4 4 30
34 4 4 3 3 4 4 3 3 4 4 36
35 4 4 4 3 4 4 3 3 4 4 37
36 4 4 3 3 4 4 3 3 4 4 36
37 3 3 3 3 4 4 2 2 4 4 32
38 4 4 3 3 4 4 3 3 4 4 36
39 4 4 4 3 3 4 3 3 4 4 36
40 4 4 4 3 4 4 3 3 4 4 37
Jumlah 130 110 110 112 115 117 118 106 139 136 1227

LAMPIRAN 5
Meningktakan Kinerja Pegawai sebagai variabel Y dengan indikator-indikator sebagai berikut :
Responden Variabel (Y) Meningkatkan KInerja Pegawai Jumlah
Pernyataan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
2 3 3 3 2 3 2 2 2 3 3 26
3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
5 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
6 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
7 3 4 4 4 4 4 4 3 3 3 36
8 4 4 3 2 3 3 4 2 3 3 31
9 4 3 3 3 3 3 3 2 3 3 30
10 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
11 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
12 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
13 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 27
14 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
15 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
16 3 3 3 3 2 4 4 3 2 3 30
17 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 38
18 4 3 4 4 3 3 3 4 3 3 34
19 4 4 3 4 1 3 4 3 3 3 32
20 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 29
21 3 3 3 3 3 4 3 2 2 2 28
22 4 3 3 3 3 3 3 2 3 3 30
23 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 28
24 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 28
25 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 29
26 4 3 3 3 3 4 3 2 3 4 32
27 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
28 3 3 3 4 4 4 4 4 3 3 35
29 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
30 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
31 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
32 4 4 3 3 3 4 4 3 3 3 34
33 4 4 3 3 3 4 4 4 2 2 33
34 4 4 3 3 3 3 4 4 4 4 36
35 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 36
36 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
37 4 4 4 4 3 3 3 3 4 4 36
38 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 35
39 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
40 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
Jumlah 135 131 128 128 123 132 132 120 121 123 1036

Gambar 3
Peta Wilayah Kelurahan Kalibata






KATA PENGANTAR

Sekala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan pentunjuk-nya semata, penulis mampu menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Penghargaan dan ucapan terima kasih dari lubuk hati yang terdalam juga penulis sampaikan kepada :
1. Bapak Ones Pahabol SE, MM. Selaku Bupati Kabupaten Yahukimo.
2. Bapak Rahadi Budi Pryitno,S,IP,M.Si. Selaku pembimbing Skripsi yang sabar mambimbing dalam persetujuan Skripsi.
3. Bapak Prof. Dr. Ermaya Suradinata, SH.MH, Selaku Manajer STIP-AN.
4. Bapak Dr.Ir. Joedomo Setyawan, MM Selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Abdi Negara.
5. Ibu Amalia Syauket, SH,M.Si. Selaku Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan STIP-AN.
6. Bapak Isak Lokon Selaku orang tua di ijinkan untuk melanjutkan kuliah di STIP-AN
7. Kepada semua teman-teman yang baik secara langsung langsung maupun tidak langsung telah motivasi penulis untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini yang tidak sempat penulis sebutkan namanya,
Akhir kata kepada semua bihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dan penulis menyampaikan ucapan terima kasih dengan harapan dan doa, semoga tuhan yang mempunyai kuasa dan berkat , kiranya senantiasa memelihara menjaga dan memberikan berkat yang berlimpah dalam dalam kehidupan , kkeluarga dan pekerjaan dari semua bihak yang telah membantu penelitihan ini.
Selain itu,penulis menyadari bahwa dengan berbagai keterbatasan yang penulis miliki sudah barang tetu ikut memwarnai usulan penelitian ini, karena itu dangan penuh rasa hormat penulis akan senantiasa memperhatikan segalah saran dan pentujuk serta koreksi demi menambah kesempurnaan skripsi ini
Akhirnya penulis berhadap, semoga skripsi ini bermamfaat dan berguna bagi kita semua pihak yang membacanya.

Jakarta 01 Desember 20011
Penulis.

Maikel lokon



Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking